Ayat-Ayat Cinta 2: Semua Perempuan Mengagumi Fahri. Warganet Geram. Memang, Apa Salah Fahri?

Ini Fahri di Ayat-Ayat Cinta yak bukan Fahrim Hamzah (Lah!)

Saya kasihan sama Fahri. Seminggu terakhir ini postingan dia menuai hujatan yang tidak sedikit. Baik itu di grup WA, media sosial, blog, hingga portal berita online.

Kegeraman ini disinyalir mereka gatel dan gemazz dengan sosok Fahri yang “terlalu sempurna”. Padahal yak, kesempurnaan itu hanyalah milik Dosen Pembimbing. Catat itu! Kalau tidak, revisi semua kerangka konsep kamu!

Ada yang bilang kalau sosok Fahri ini dipaksakan dan seolah-olah bagaikan malaikat. Ada yang bilang juga sosok Fahri gak realistis. Ada yang bilang, gak realistis gapapa, kan ini CUMA film. Iyak. CUMA. Ada banget lho yang komen gitu. Hastagaaa pengen gue tabok buku literatur dan sejarah dimana film itu bisa punya power yang besar dan jadi alat propaganda. Tapi sudahlah. Apalah gue yang nggak mampu test IELTS sebesar hampir 3 juta biar bisa S2 di Glasgow atau Edinburgh seperti Hulya dan teman-teman LPDP gue lainnya. (oke yak mup on yak). Ada juga yang membandingkan sosok Fahri dengan Rangga. Heboh lak pokoknya.

Para laki-laki gemaz. Mereka kesaalll bukan kepalang melihat Chelse Islan minta dikawini sama Fahri. Lebih kesal dibandingkan saat Si Tampan Bastian Steel digosipkan pacaran sama Chelsea.

022860200_1497390740-bastian_steel_dan_chelsea_islan

SAVAGE BRUUUUHHH

Sementara saya kesaaaalll sama Tatjana yang meluk-meluk Gong Yoo di iklan ASUS. APAAN COBA!!!! (lah,lah..lah….)

 

maxresdefault

Gong Yoo be lyke: Dengerin single terbaru Mulan Jameela dulu deh dek. Asyik lho

 

 

dafuq-did-i-just-see

Tapi diantara semua kemarahan Warganet dengan Fahri, saya lebih marah dengan sosok perempuan disini.

Saya sebel, kesel, dongkol, dengan cara stutradara memberikan karakter pada anak-anak gadis di film ini. Saya nggak baa novelnya sih, jadi saya nggak tahu karakter di novel seperti apa. But once again, ini kita ngomongin film yak. Jangan terus sangkut pautkan film dengan novel. Kalo novel bagus dan film jelek, ya jelek aja. Macam Eragon itu. Tapi kalau novel bagus dan film bagus, maka dia akan jadi legend seperti LOTR dan GoT. (Sembah sujud sama eksekutornya)

Okeyak lanjut keburu mau packing ke Jogja nih gue mau liburan sama Pacar setelah 3 bulan ngurusin Tesis yang ajaib.

Sebagai perempuan, jujur saya ikutan malu ya nonton film ini. Penulis naskah dan sutradara terlihat ga konsisten dengan peran yang ada seperti

 

  1. Hulya. Hey Hulya! Kamu ini sudah susah-susah stalking masuk kelas Fahri, lalu memberikan statement tentang perempuan-perempuan cerdas di Islam, lalu bilang mau lanjut buat S2 di Edinburgh. Eh tapi apa? Mengapa kamu langsung lemah ketika Fahri melamarmu di bangku taman ala 500 Days of Summer itu, hah?

    813dea3f08d3ea60e8eb969a1d949482-days-of-summer-cinematography 

     

     

    Apa kamu tau Hulya, banyak sekali anak-anak LPDP itu yang mau daftar ke Edinburgh tapi belum beruntung buat dapet LoA?.Lah kamu yang enak banget mau kuliah dimana tinggal nunjuk, malah melupakan mimpimu. Hulya, menikah bisa menunggu. Tapi pendidikan tidak! (Kata quotes temen di insta stories). Ketika Bapakmu datang  untuk meminta Fahri melamarmu, kamu bilang “Kenapa harus cepat-cepat? Bagaimana dengan postgrad Hulya”. Dan semua itu runtuh ketika Fahri berlutut di hadapanmu. Kamu terharu. Matamu berkaca-kaca. Dan kamu mengiyakan lamarannya. Adegan yang mengukuhkan kalau perempuan itu jangan capek-capek sekolah, toh nanti jadi bini orang juga. Mbak-mbak di bioskop baris depan mewek. Saya dan teman cewek saya saling pandang-pandangan kezeeell….

  2. Keira!  Saya nggak tau apakah passion Keira emang sebegitunya sama main Biola, hingga dia mau menikahi Fahri ketika mengetahui Fahri-lah yang diam-diam mengirimkan guru les privat biola ke rumah Keira. Tapi, dimana pribadi kamu? Kemana sosok Keira yang keras kepala, tangguh, rebel abeess ala-ala scotland girl, dan almost be an alpha women…. ketika akhirnya dia menawarkan tubuhnya buat menikahi SIAPAPUN yang bayarin guru les biola dia ketika dia diwawancAra di acara talent British gitu. Mbok ya mikiiiiirr kalo mau membalas budi itu. Ini saya jadi perempuan malu banget lho. Seolah-olah perempuan ini nggak sanggup memberikan hal lainnya untuk apa-apa untuk balas budi, lalu jadinya “Nikahi aku saja Fahri aku mohooooonnnn” dengan menawarkan tubuh dan keperawanan. MALU AKU MALUUUU NONTONNYA AAAAARRGGGHHH!!!!! Serendah itukah perempuan di mata Industri film? Betewe, Aduh Dek Keiraaa… untung itu Fahri yang bayarin elo les biola. Kalo Bastian Steel gimana? Mau lo ngawinin dia? beneran lo? Yakin lo? Heeemmm….
bastian-steel-cjr-jaga-komunikasi-455

I CALL YOUR DADDY NOW!

3. Aisha

Ini yang bikin aing paling frustrasi. INI GORE MOVIE APA GIMANA SIH? Kok saya berasa nonton American Horror Story deh. Adegan dimana Aisha merusak Vagina dia supaya gak di perkosa it was like…Oke gue paham. Ini ingin menunjukkan kuasa dan otoritas perempuan atas tubuhnya sendiri. Tapi… lah bagaimana dengan ‘dick’ para pemerkosa? Ya masa kami para wanita harus masukin besi ke lubang kemaluan kami supaya tidak diperkosa. Lalu ini juga yang menjadi alasan Aisha tidak bisa kembali ke Fahri. Karena ia bukan Aisha yang dulu. Karena ia sudah “rusak”. Ujung-ujungnya film ini kembali meletakkan kehormatan perempuan hanya pada selangkangan. AKU TERKEDJOOEETTT!

tumblr_o7oxuiz0l81vne1u2o5_540

Hanya Brenda yang aktingnya paling natural disini. Mungkin juga karena hanya dia yang PALING WARAS dan nggak ngintilin Fahri kemana-mana dan kasih makanan seperti Hulya dan mahasiswa Fahri lainnya. Ah, bahkan Rangga juga nggak sampe diikutin cewek-cewek kemana-mana ketika dia di bangku SMA.

rangga-moela_20170108_090415

BUKAN RANGGA YANG INI. ETDAAAAAHHH!!!!

Nah, lalu salah Fajri dimana? Salah Fahri adalah… posisi dia di film ini seolah-olah menjadi pembenaran ketidakwarasan hal-hal yang dilakukan oleh ketiga perempuan di atas. Semuanya dibuat wajar. Wajar ketika Hulya menerima Fahri dan gagal S2, karena itu FAHRI yang melamar dia. Wajar ketika Keira mendadak lemah dan meminta Fahri menikahinya. Dan wajar apabila Aisha memilih berkorban banyak dan menderita, demi melihat Fahri bahagia. Semua tindak tanduk Fahri dibenarkan. Dan semua adegan menunjukkan bahwa “tidak ada yang bisa menolak Fahri”

Pada akhirnya, film ini juga dibungkus dengan sangat berantakan. Proses Face off malah jadi ending. Padahal face off sendiri adalah konflik besar tersendiri menurut saya. Mari kita lihat film “Face Off” John Travolta dan Nicholas Cage. Saat nonton film itu saya sudah erasa dibodohi. Ya masa segampang itu tukeran muka. Tapi film ini konsisten. Konfliknya hanya satu. Maslah face off yang dibawa sampai akhir film. Lah disini, dijadiin ending bok. Seolah-olah itu jadi solusi.

Dan pada akhirnya pun, Fahri kembali menjalani hidup sempurna. Akhirnya punya anak. Dan istrinya….. wajah istri kedua, tapi hati tetap istri pertama. Apakah, ini impian semua laki-laki di dunia ini? Apakah kemudian perlakuan Fahri jadi pembenaran buat poligami? Hanya karena bosen sama muka istri, lalu nikahin istri kedua. Tapi kasih sayang au tetep dapet dari istri pertama. LHA KOK NYIMUT!

Kaget. Sungguh kaget film ini dieksekusi seperti ini. Ketika saya cerita plot film ini di kampus, ada yang kesel sampai gebrak meja. Ada yang penasaran sampai cabut ke XXI dan nonton sendirian.

Setidaknya meskipun film ini tidak mendidik, dengan review-review yang ada penonton bisa belajar menilai film scara kritis, Nggak he em he em aja lalu ditelan mentah-mentah. Semoga film ini bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Dan layaknya warganet yang lain, saya juga jadi geram sama Fahri.

Ya gitu lah cewek. Walau bilangnya minta kesetaraan gender tapi di akhir selalu bilang “laki-laki selalu salah, dan perempuan selalu benar”. belom lagi kalau ditambah “AKU TUH LAGI PMS”

But, seriosly… I’m on my PMS rite now. Seriously!

3-2

Segini aja review saya. Mbak teppy yang hits serta tirto.id serta penggemar film lainnya sudah memberikan review yang lebih ciamik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s