Postmodern Beauty: Pandora Booty Goal yang Menyedihkan

Sejak kecil saya sudah gemuk. Gendut. Gembrot. Bongsor. Whatever you call it lah.

Saya ingat di kelas 3 SD, badan saya paling tinggi menjulang. Tulang saya besar. Turunan dari Ayah saya. Menginjak dewasa dan masa puber, tidak ada tanda-tanda berat badan saya turun. Justru saya semakin membesar. Malas gerak, tetapi nafsu makan bertambah.

Sedihnya adalah, tidak ada orang di sekitar saya yang memberikan saran ataupun info mengenai apa yang harus saya lakukan untuk mencegah tubuh saya yang semakin membengkak. Yang mereka lakukan adalah terus menerus mengatakan saya gendut dan suka makan. Faktanya, saya memang dari dulu suka makan. Sampai sekarang sih. Saya ingat ketika SMP dulu, setiap merampungkan makan siang, saya akan lanjut makan mie instan atau roti tawar yang dilapisi mentega dan gula.

Hingga saya kuliah hal ini terus berlanjut. Saya tetap kelebihan berat badan,dan sekali lagi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, selain menelan bulat-bulat bullyan orang-orang terhadap badan saya ini. Saya ingat, dulu saya benci sekali melihat pantulan wajah saya yang sedang telanjang bulat di cermin kamar saya. Saya merasa hina. Saya merasa itu bukan saya. Saya tidak segendut itu! Hal ini berlangsung ketika saya memilih baju yang akan saya kenakan. Saya bersikeras baju yang sebenarnya “ngapret” itu cukup untuk saya, dan refleksi di cermin itu bukan saya!

Short story, saya berhasil menurunkan berat badan saya. (Saya akan menulis prosesnya seperti apa, dan bagaimana saya jadi “gym addict” hingga saat ini, serta berbagai macam jenis olahraga apa saja yang sudah saya lakukan. Duh… semoga istiqomah yaa dan tidak dihantui oleh penulisan tesis dan jurnal). Nah, cerita menarik bermula disini. Setelah berat badan saya turun hingga 8 kilo, otomatis saya tidak jijik lagi dong melihat tubuh saya di depan kaca (Bahkan bisa berlama-lama ngaca dan memperhatikan perut serta paha yang mengecil. Sungguh buang-buang waktu yang tidak berfaedah sekali saudara-saudara). Tetapi ternyata setelah saya tidak overweight lagi pun (Sebenernya kalau menurut BMI sih masih overweight 2 kilo), saya masih mendapatkan celaan dan cibiran mengenai bentuk tubuh saya.

“Pantatnya tepos!”

“Nggak punya pantat!”

“Dadanya rata”

“Kecil amat itu Payudara. Kasian cowok lo”

Padahal…. Sebelum berat badan turun, saya dihina habis-habisan mengenai size pantat saya yang besar. Sekarang setelah mengecil, again….. badan saya mendapatkan cibiran karena pantatnya tepos. Tidak “booty goal” ala Kardashian.

Sekarang saya tanya…. Memangnya berat badan ideal itu seperti apa? Siapa yang membuat standar bentuk tubuh ideal? Kenapa sekarang yang penting adalah pantat yang besar? Sejak kapan? Apakah sejak Kardashian membesarkan pantatnya? Ataukah sejak Nicky Minaj bikin video yang goyang-boyangin bokong dia di hadapan kamera?

Hey! Sadar nggak sih, persepsi kita mengenai bagian tubuh wanita yang ideal itu semuanya dibentuk dan dikonsepkan. Dan jenis tubuh wanita ideal itu berubah-ubah setiap generasinya. Silahkan tonton video yang saya dapatkan dari BuzzFeed dan diakses pada 15 September ini.

Pada masa Renaissance, tubuh ideal adalah yang gemuk dan berisi. Berlemak. Pinggul yang besar, perut yang bulat, serta dada yang besar. Karena pada saat itu hanya orang-orang kaya saja yang bisa menjadi gemuk dan makan enak.

Yang paling menarik perhatian saya dalah era tahun 1920 ketika masa PD I. Pada jaman itu, tubuh ideal perempuan adalah yang boyish atau tomboy. Pakaian dalam yang laku adalah pakaian dalam yang membuat payudara mereka semakin rata. Karena mereka harus bekerja, bahkan membantu tentara dalam Perang Dunia.

original-24021-1422387296-8

Di tahun 1930 hingga 1950, semua orang mendewikan Marilyn Monroe. Dada yang besar serta pinggul yang ramping. Yaaa…. Tipe-tipe gitar spanyol lah. Perempuan dengan tipe tubuh seperti itulah yang disebut seksi dan dianggap memiliki tubuh ideal.

qlhbsbr

Pada tahun 1960, semua berubah. Muncullah model bernama Twiggy yang badannya bak telenan. Sangat tinggi dan sangat kurus.

twiggy

Twiggy merutuhkan konsep tubuh ideal yang berdada besar ala Marilyn. Twiggy dengan percaya diri menunjukkan tubuh kurus cekingnya itu. Jadilah para wanita di masa itu beramai-ramai melakukan bulimia. Semakin kurus, semakin tidak makan, semakin cantiklah mereka di hadapan khalayak. Walaupun pada akhirnya banyak yang meninggal. Tercatat bahwa kasus Bulimia meningkat drastis pada tahun 1970-1980 (https://www.psychologytoday.com/blog/evolutionary-psychiatry/201112/history-eating-disorders

Dan kini tiba di masa Postmodern Beauty. Perempuan seksi di masa ini harus memiliki dada yang besar, pantat yang besar, tetapi perut yang rata. Jangan lupa harus langsing dan sehat juga. Gaya hidup makan sangatlah penting pada perempuan jaman ini. B*ngke! Mau hidup kok susah amat! Mau cantik kok ribet.

Jadi dapat dibilang, merupakan kesalahan saya hidup di era Postmodern Beauty! Pantat saya yang megecil hasil Indoor Cycling selama 4x dalam seminggu di gym percuma sudah. Orang tetap membully dan mencibir saya. Bayar gym 500rb lebih sebulan juga percuma sudah. Karena saya masih dituntut untuk memiliki “booty goal” serta dada yang besar. Eits jangan lupa, perutnya tetap rata yaa. Groooaaarr.

Lalu yang menjadi pertanyaan besar disini adalah, emang kenapa sih kok tipe tubuh ideal wanita  setiap jaman selalu berubah-ubah. Mengapa kira-kira?

Kalau dari sudut pandang saya yang sudah di doktrin oleh kampus tempat saya S2 yang sangat kiri selama satu tahun terakhir ini, tentu saja itu semua untuk MEMBUKA PASAR BARU. Berubahnya konsep ideal tubuh wanita, memiliki pengaruh besar kepada penjualan pakaian dalam wanita, hingga produk fashion lainnya. Di jaman now, yang lagi booming ya membesarkan pantat.

“Ada banyak orang yang terpesona melihat Kim Kardashian atau Nicki Minaj atau beberapa wanita yang memiliki pantat lebih besar, dan mereka berusaha untuk itu,” kata Dr. Michael Edwards, presiden American Society for Aesthetic Plastic Surgery, yang mengumpulkan data mengenai oprasi plastik. Menurut laporan tahun 2015 dari American Society of Plastic Surgeons (ASPS), implan dan lift butt adalah jenis operasi plastik dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Trennya dimulai pada tahun 2014. Pada tahun 2015, rata-rata setiap 30 menit, terjadi 1 prosedur implant bokong. SAY WHAAAAAATTTT????!!!! Oh ya, dan biaya untuk oprasi bokong bersisar antara 8.500 – 10.000 US DOLLAAAAAARRRR!!! (Data di tahun 2015. Di tahun ini bisa meningkat lagi)

Belum lagi produk-produk pembesar pantat seperti di bawah ini yang saya dapatkan dari Amazon ketika mengetikkan kata “butt lift” di kolom pencarian.

butt2butt1

Lihatlah berapa banyak uang yang dapat mereka raup setelah membuat kita terlena dengan bentuk pantat ideal. Sungguh mengerikan. Sekali lagi seperti yang saya bilang, ini semua untuk membuka pasar baru. Kalau pantat besar tidak menjadi tren, mana mau orang membeli produk-produk seperti di atas. Di tahun 1990 pasti kita ditertawakan jika membeli produk seperti ini. Karena di tahun 90-an tubuh ideal itu ya seperti Kate Moss. Kurus kering dengan tato, rambut berantakan, seperti orang yang nyandu heroin.

Selain itu, saya lelah sekali setiap kali melihat Instagram akun fitness, para perempuan di Instagram sangat suka melakukan “butt workout” atau “glute workout”. WHAT IF I DON’T WANT TO? GO AWAY AND DON’T TAKE MY MONEY!!!! Ditambah lagi banyak sekali yang menjual program membesarkan pantat serta apalah-apalah itu. Oh iya, tidak lupa beredarnya foto-foto before and after yang memamerkan pantat mereka yang bulat sempurna seperi buah persik.

d0ab8620c331617998d29dd2c50866c1-home-workout-plans-at-home-workouts

faa187f96c8f8e62cbdeca4cd17fe0de

Dan kita terlalu sibuk menjudge bentuk tubuh orang lain dengan standar tubuh ideal yang sebenarnya dibentuk oleh para kaum pemilik modal itu, supaya kita berbondong-bondong membeli produk mereka. Kita seolah-olah berada dalam Pandora bokong besar, sementara para pemilik modal tertawa senang dan kipas-kipas duit.

Jadi, berbanggalah yang belum panik ikut fitness untuk mendapatkan round butt. (Plus squats challenge squats challenge itu) Karena anda tidak menjadi korban kapitalis!

Damn you Kim. I blame you for this! You didn’t even do any squats at all! (I’m on Taylor Squad)

taylor-swift-spotify-leak-song

Lalu apakah saya akan mencoba membesarkan pantat saya? Hmm… Saya akan tetap olahraga seperti biasa. Tentunya dalam satu minggu ada olahraga untuk abs, leg, butt, and arm. Plus cardio dan yoga. Jadi nanti kalau pantat jadi booty goal yaudah, kalau enggak juga yaudah sih. Sekarang lebih ingin anggap angin lalu saja kritikan orang terhadap tubuh saya.

Dan berdamai dengan tubuh sendiri itu tidak mudah. Saya terbiasa dibilang gendut dan jelek. Saya gendut dan jelek karena orang-orang berkata seperti itu kepada saya. Bukan karena PBB dan UNICEF yang secara langsung mengklaim kalau saya gendut dan jelek. Tidak. Hal tidak menyenangkan yang terjadi belasan tahun di hidup saya tentunya memberi saya efek negatif. Saya jadi insecure dengan tubuh saya sendiri.

Hhhhh…. Nggak mudah cerita disini. But, oke I’ll try.

Seumur hidup TIDAK ADA orang yang memuji saya cantik. TIDAK ADA.

Ketika berat badan saya turun banyak, saya bertemu saudara dan tetangga, komen mereka adalah “Nah gini cantik kalo langsing”. Ini sekaligus pembuktian bahwa sebelumnya saat saya gendut, ya saya jelek di mata mereka.

Jadi guys…. Mau cantik? Langsing makanya! Jangan lupa itu pantat digedein, perut diratain, dan dada dibesarin.

Dan hal ini jadi berimbas kepada pacar saya. (aduh malu). Pacar saya tipe orang yang tulus dan gak neko-neko. Dia sering komen jika kami sedang vidcall, atau saya kirim selfie ke dia (maklum LDR book), pacar saya suka memberikan komentar “Kok manis banget hari ini”, “Cantik ya kamu pagi ini”, “Makin hari manisnya makin nambah deh”. Dan bagaimana reaksi saya? Bukannya bahagia, saya malah bilang “BOHONG KAMU! GAK USAH GOMBAL! AKU TUH GAK CANTIK. AKU TUH GAK MANIS!” Dan Pacar saya jadi kebingungan karena dibilang bohong dan gombal. Tidak hanya itu, dia juga jadi sedih karena saya menganggap dia bohong memuji saya cantik. Padahal saya kirim selfie saya setelah cuci baju pakai tangan juga dia dengan tulus berkomentar kalau saya cantik. Ketidak percayaan diri yang saya dapat dari hujatan sosial belasan tahun, justru malah turut menyakiti hati pacar saya sendiri yang dengan tulus memuji saya.

Dan sampai saat ini, masalahnya belum kelar. Saya senang dia bilang saya cantik atau manis. Tapi ada sedikit perasaan sanksi di hati saya saat dia mengatakan hal itu. Ini beneran gak sih beneran gak sih? Walau saya suka kirim selfie dengan ekspresi wajah yang absurd, dia tetap bilang saya cantik. Tapi kalau saya lagi BT dan cemberut, ya dia jujur akan bilang saya jelek kalau lagi badmood begitu. Iya, harus berdamai sama tubuh sendiri dulu sepertinya.

Karena lagu Cherrybelle yang “Kamu cantik cantik dari hatimuuuu” itu sungguh bullsh*t guys. Akan selalu ada statement, “Bego sih.. Untung cantik dan langsing. Badannya bagus pula.”

Akuilah.

 

P.S: Sejak berat badan saya turun, saya belajar untuk tidak judge tubuh sesama perempuan. Karena kamu mau langsing atau gendut, tetep aja akan ada yang ngomongin gitu lho. Sudahlah, mari makan nasi padang saja pakai gulai otak dan sambal terong kuy!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s