Coffee Talk #3

azure_28c0050d903a6c9595848b9656cdf62c

Tahukah kalian, bahwa biji kopi yang sudah dipetik memiliki metode yang berbeda untuk menjadi segelas cangkir kopi yang kita nikmati di pagi hari sebelum menjalankan aktivitas? Kopi yang berasal dari kebun yang sama dapat memiliki rasa yang lain jika proses pasca panen yang dilakukan juga berbeda. Biji kopi yang teralu kering akan terasa berbeda dengan biji kopi yang masih basah. Biji kopi yang di sangrai dengan kayu bakar, tentunya berbeda jauh juga dengan biji kopi yang di roasting dengan mesin otomatis.

Mungkin manusia juga seperti itu. Hasil akhir pada manusia, semua tergantung kepada proses sebelumnya. Bisa saja dua manusia yang bertemu di waktu dan tempat yang tepat akan memiliki hubungan yang berbeda, dibandingkan jika mereka bertemu di waktu dan tempat yang salah. Tetapi toh benar atau salahnya waktu, baru akan kita sadari pada akhir juga. Setelah mengalami proses yang ada. Setelah meneguk rasa kopi itu sendiri.

***

“Ah, sial!” Rutuk Gadis ketika dia menginjak kubangan air di dekat lokasi yang ia tuju. Gadis meratapi sepatu boots dari bahan suede yang sudah basah kuyup terkena hujan. Dia tahu sepatu itu mahal. Yah, walaupun sepatu tersebut lungsuran dari Sani juga. Tapi kan tetap saja.

Gadis berlari kecil membelah hujan yang turun deras sambil menggenggam payung di tangan kanannya. Ketika sampai di Kedai Kopi yang ia tuju, Gadis menutup payung, membiarkan rintikan hujan membasahi ubun-ubunnya, sebelum akhirnya ia membuka pintu.

“Hey! Dit!” Seru Gadis. Kepalanya  muncul dari pintu kedai. Sementara kaki dan badannya masih kehujanan di luar ruangan. Satu-satunya barista Kedai Kopi yang sedang khusyuk menimbang biji kopi menoleh ke arah pintu.

“Jabang Bayi!” Barista tersebut terkejut melihat penampakan kepala Gadis. Belum lagi rambut Gadis yang basah menjuntai dan menutupi sebagian besar wajahnya.

“Sssssstttt!!!” Gadis meletakkan telunjuknya di bibir. “Mana dia? Udah dateng?”

Barista yang mengenakan name tag bertuliskan “Adit” menunjuk kepada satu-satunya pelanggan yang duduk agak jauh di piggir jendela dan memunggungi mereka.

“Dari sejam yang lalu. Kalian janjian?” Tanya Adit.

Gadis hanya mengangguk. Kini dia benar-benar masuk ke dalam kedai kopi. Gadis meletakkan payung di dekat counter dan melepas jaketnya yang basah. Adit menawarkan diri untuk mengeringkan jaket Gadis, dan Gadis mengijinkanya.

“Samperin tuh. Udah habis dua cangkir kopi dia” Adit berbisik sambil meraih jaket Gadis.

Gadis hanya mendesah berat. Hujan deras di sore hari nampaknya membuat orang malas keluar sehingga Kedai Kopi ini sangat sepi. Meskipun cuaca cukup dingin karena hujan, namun Adit tidak berupaya untuk menurunkan suhu AC ruangan. Adit menata kedai kopi dengan sangat minimalis. Hanya meja dan kursi dari kayu. Jedela-jendela yang besar. Beberapa pasang bantal duduk di kursi. Ditambah hiasan dinding yang seperlunya saja.Gadis sedikit menggigil. Perlahan-lahan dia berjalan mendekati satu-satunya pelanggan di kedai tersebut. Dia ingin membenahi rambutnya. Tapi ia tahu itu tidak membawa perubahan yang cukup mengesankan dalam penampilannya kali ini.

Gadis duduk di hadapan pria yang sedang berhadapan dengan laptop dan beberapa lembar kertas di samping kirinya. Di sebelah kanan meja terdapat satu cangkir kopi yang telah kosong, separuh cangkir Latte, dan dua potong roti bakar. Gadis mengambil salah satu potongan roti bakar tersebut dan memasukannya ke dalam mulut.

Pria itu akhirnya menyadari keberadaan Gadis di depannya.

“Beli sendri dong! Itu roti jatah makan siang aku” ujar pria tersebut.

Gadis hanya nyengir kuda. “Masih aja pelit masalah makanan”.

“Kamu lama banget. Masih kejebak sama si Medusa itu?” Tanya pra itu.

“Ya kamu tahu lah, Nang” Gadis menjawab pertanyaan Lanang.

Lanang kembali mengetikkan sesuatu.  Pandangannya tertuju pada layar laptop.

“Oke aku tahu nggak seharusnya ganggu kamu kalau lagi sibuk gini” Gadis mengangkat bahunya.

Lanang menghentikan ketikan di keyboards. Dia menengadah dan menatap mata Gadis. Entah bagaimana wanita di hadapannya selalu menarik perhatian Lanang dalam cara yang lain. Selama beberapa detik mereka saling diam bertatapan.

“Maaf ya kemarin” Lanang membuka perakapan.

Gadis mengangkat bahunya dan kembali mengunyah roti bakar.

“Jadi kamu pergi sendiri?” Lanang lanjut bertanya.

Gadis masih sibuk mengunyah.

“Kenapa sih kamu nggak bilang lebih awal? Aku bisa kabur dari acara ulang tahun bocah-bocah itu”.

“Ya sudahlah, Nang. Pada akhirnya aku baik-baik saja kok. Masalah gaun Medusa sudah selesai. Dia lagi di Bali selama empat hari ke depan, dan aku akan bebas melakukan apapun yang aku mau sampai dia kembali ke Jakarta dan menyiksaku perlahan-lahan.”

“Iya, tapi aku kepikiran kamu nyetir mobil sendirian ke Bandung.”

“Nang, I am fine!” Gadis menaikkan nada bicaranya.

“Kamu punya masalah tidak mau naik mobil kecuali kamu nyetir sendiri, atau aku yang nyetir mobil tersebut. Itu artinya kamu ada masalah, Dis. Kamu tidak baik-baik saja.” Lanang mencondongkan badannya ke arah Gadis.

“Whoa! Tahu apa kamu? Bukan Papa kamu yang meninggal dalam kecelakaan mobil!”

Trraaaaaannnggg!!!

Suara peralatan besi yang jatuh terdengar nyaring dari arah counter. Adit tidak sengaja (atau sengaja) menjatuhkan lusinan sendok yang baru saja ia cuci. Gadis dan Lanang menoleh ke arah counter. Adit hanya membalas tatapan dingin mereka dengan senyuman.

Sorry. Anggap aja gue nggak ada.” Adit membenamkan kepalanya ke balik counter untuk memungut sendok yang berjatuhan.

Lanang mengalihkan pandangannya dari Adit dan kembali menatap Gadis. Gadis tidak suka apabila Lanang melihatnya dengan cara seperti itu. Dia merasa perutnya selalu mendadak mulas ketika Lanang menatap matanya secara langsung.

“Rambut kamu kenapa sampai basah gitu sih? Kamu kesini naik ojek?”

“Busway” Jawab Gadis sambil menunduk dan membenahi poninya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan poni Gadis.

“Nggak pake payung?”

“Pake kok.”

Percakapanan kaku mereka terhenti ketika posel Lanang berdering. Gadis langsung menatap jendela di samping kanannya. Dia sudah tahu dari siapa telepon tersebut. Gadis berusaha berkonsentrasi kepada kaca jendela yang basah oleh tetesan hujan, daripada mendengarkan percakapan Lanang di telepon.

“Hey…” Lanang menjawab teleponnya. “Mmm… aku di….” Lanang melirik Gadis sekilas. “Aku lagi di kampus. Kenapa? Sekarang? Well… oke. Tapi Trista….. ini masih hujan deras. Mmm… satu jam lagi mungkin? Oh, oke… baiklah.”

“Dis, aku harus cabut.” Lanang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

“As usual” celetuk Gadis.

Lanang mendesah berat. “Dengar Dis, aku mohon kamu pertimbangkan tawaran Mas Gian. Coba kamu masukkan CV kamu lewat dia. Sampai kapan kamu mau kerja sama Medusa itu? Karir kamu nggak akan kemana-mana.”

Gadis mengusap wajahnya frustasi. “Nang, kamu tahu aku nggak bisa meninggalkan Jakarta.”

“Kamu bisa. Kamu punya pilihan!”

“Kata seseorang yang juga tidak memiliki pilihan” Ujar Gadis.

Lanang memincingkan matanya menatap Gadis. “Aku memang punya pilihan.”

“Oh ya? Apa? Berpacaran dengan Trista yang bahkan tidak pernah kamu suka? Kuliah di jurusan yang dipilihkan oleh Mama kamu? Menghadiri acara ulang tahun orang yang tidak kamu kenal?”

“Dis, cukup!” Lanang setengah berteriak. Dia berdiri dan menyampirkan tas ke pundaknya yang tegap. “Aku berusaha ajak kamu ketemu disini, nunggu kamu beram-jam disini, hanya karena aku khawatir dengan kondisi kamu, sekaligus aku mau minta maaf karena nggak bisa antar kamu ke Bandung kemarin. Tetapi nyatanya kamu sendiri yang terlambat selama satu jam.  Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan sarkasme dari kamu”

Gadis menopang dagunya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya mengambil potongan roti bakar terakhir. “Pergilah sana.” Kata Gadis sambil menggigit roti.

“Kamu nggak mau bareng sama aku?”

Gadis menggeleng menolak tawaran Lanang. “Aku masih mau ngopi. Biar aku pulang naik ojek saja.”

Lanang mendekati Gadis dan menyentuh kepala gadis. “Salam ke Mama ya. Jangan lupa kamu segera hubungi Mas Gian.”

Gadis mengangguk singkat. Lanang berpamitan kepada Adit dan menerjang badai di luar kedai kopi.

Dari jendela, Gadis mengamati Lanang yang berlari masuk ke dalam mobil sambil memeluk tasnya , seolah dengan cara seperti itu tas Lanang secara ajaib menjadi water proof.

“Vietnam drip?”

Gadis kaget melihat Adit yang tiba-tiba sudah duduk di depannya. Gadis hanya mengangguk.

Adit mendesah berat dan menyalakan sebatang rokok. Dia menyodorkan bungkus rokok miliknya kepada Gadis. Gadis ikut mengambil satu batang dan menyalakannya. Selama beberapa menit, hanya ada kepulan asap rokok dan suara gemuruh hujan yang saling berbicara. Adit telah mematikan AC dan membuka beberapa buah jendela. Smooking are di kafe tersebut hanya terdapat di teras luar yang tidak memiliki atap sama sekali.

“Elo tahan juga ya. Kalau gue jadi elo, mungkin gue udah nggak mau ketemu sama Lanang sejak lama.” Adit menghembuskan asap seara dramatis dari mulutnya.

Gadis memincingkan mata kepada barista di hadapannya dan menatapnya dengan kesal. “Heh, kok elo malah diem ngerokok disini? Kopi gue mana?”

Adit beranjak dengan malas dari kursi. Pada siang atau sore hari, kedai kopinya selalu sepi. Biasanya orang-orang mulai datang saat menjelang malam. Kecuali di akhir pekan yang selalu ramai sejak kedai dibuka.

“Is that hurt?” Adit bertanya sambil memandangi bangku-bangku kosong di kedainya.

“Apanya?” Gadis menengadah.

Adit mengangkat bahunya. “Mencintai seseorang yang tidak pernah berbalik mencintaimu.”

Gadis menyunggingkan ujung bibir kananya dan menghisap rokok daam-dalam. “Coffee, please!” Ujar Gadis penuh penekanan.

Adit tertawa kecil dan menuju counter sambil menggumamkan lagu yang diputar di kafe.

“Ilalang…. seruling… di bocah desa. Ia bertelanjang dada…. Ilalang…”

Vietnam drip. Aeropress. French press. V60 Dipper. Cold drip brewing.

Begitu banyaknya metode brewing, dan begitu berbedanya setiap rasa kopi yang dihasilkan dari metode tersebut.

Proses.

Hasil akhir yang baik adalah perjalanan yang percaya kepada proses. Karena proses adalah sebuah arah, bukan tujuan.

 

To be continue to Part 4

Coffee Talk #1 

Coffee Talk #2

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s