Coffee Talk #2

img_89181

Gadis terbangun karena getaran ponsel yang terus menerus di bawah bantalnya. Dalam hitungan sepersekian detik, Gadis duduk tegak di kasurnya. Dia meraba-raba bawah bantalnya, mencari ponsel dengan mata yang masih setengah terpejam.

“Ada yang tidak beres” Pikir Gadis.

Dia tahu ada sesuatu yang salah pagi itu. Gadis mematikan alarm dari ponsel, dan menatap layarnya selama beberapa detik. Dia tahu ada yang tidak beres. Dia tahu ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Tapi dia tidak tahu apa itu.

Ponsel satunya lagi!

Gadis memiliki dua ponsel. Ponsel yang dia pegang sekarang adalah ponsel yang hanya digunakan untuk menyalakan alarm, mendengarkan musik, dan update sosial media ketika mendapatkan wi-fi. Sedangkan ponsel satunya, yang tidak dia ketahui keberadaannya, adalah ponsel pribadi untuk pekerjaan dan menghubungi keluarga, teman, serta rekan kerjanya.

Gadis lompat dari tempat tidur. Dia mencari di saku celana. Tidak ada. Di saku jaket juga tidak ada. Di dalam tas, di dalam lemari pakaian, di dalam laci, hingga di bawah tempat tidur juga tidak ada.

Gosh!” Gadis menepuk jidatnya dan berlari ke kamar mandi. Ponsel yang dia cari tergeletak di dekat wastafel bersebelahan dengan odol dan sabun cuci muka.

Raut wajah Gadis berubah sekitika. 45 panggilan tak terjawab dari pukul 06.10 hingga 07.52 dari nomor yang disimpannya dengan nama Medusa.

“Apa? Kenapa…. Kenapa jadi silent mode gini sih?” Gadis meratapi ponselnya.

Gadis tidak berani mengecek WhatsApp ataupun pesan yang masuk. Dia belum siap menghadapi horror sepagi ini. Dengan pontan-panting Gadis buru-buru mencuci wajah dan mengenakan baju sekenanya, sebelum akhirnya dia berlari keluar rumah dan mengabaikan panggilan masuk yang ke-46.

***

“Rico! Gue yakin itu pasti Rico” Yudha menuangkap air panas ke gelas kertas miliknya.

“Ssstt! Anjir jangan keras-keras napa!” Kata Oli panik sambil melihat sekitar. “Tapi lo liat deh ya Instagram dua bocah itu. Liat gak sih jam tangan mereka tuh couple?”

“Li, ambilin gue kopi sachet lagi dong.” Pinta Riri kepada Oli. “Dua, Li!” Riri menegaskan.

“Anak aneh ya lo masih aja minum kopi dua sachet sekaligus” Ujar Gusti sambil mengaduk gelas kopinya.

“Terus emang mereka itu kemarin kabur ke Taiwan bareng. Gila apa ya dikira kita nggak ada yang ngerti.” Lanjut Oli dengan merasa gosip yang dia ceritakan lebih penting dari perbincangan apapun diantara keempat orang tersebut.

“Ini ya yang gue benci kalo kita pemotretan di luar begini. Kenapa nggak di kantor redaksi aja sih? Sama aja ada studionya. Nggak suka gue kopi sachet gini nih! Kalo di kantor kan bisa grinder sendiri.” Keluh Gusti. Meski mengeluh, tapi kopi dia lebih cepat habis dari yang lainnya.

Riri meracik kopi dua sachet yang dituangkan sekaligus dalam satu gelas  sambil mengamati lokasi pemotretan yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari meja coffee break. “Lihat dulu tuh Bang, siapa dulu artisnya yang kita foto.”

“Kalau sampai gosip dia pacaran sama Rico gue lempar ke forum, duh mati dah karir si Kardashian wanna be itu.” Oli berkata geram sambil meremas gelas kertas di tangannya yang untungnya sudah tidak berisi kopi panas lagi.

Selang beberapa detik kemudian, Gadis mendatangi meja coffee break. Dia mencari-cari kopi yang pas di dalam tumpukan kopi sachet.

“Kopi sachet murahan semua.” Rutuk Gadis kesal. Pun begitu dia tetap mengambil Moccachino dan meraciknya dengan terburu-buru.

Aura di meja coffee break mendadak berubah setelah Gadis datang. Tidak ada lagi kata-kata yang meluncur dari bibir para crew majalah. Gadis menyadari hal ini, namun dia berpura-pura tidak terjadi hal apapun. Ini bukan pertama kalinya orang-orang bersikap seperti itu kepadanya.

“Hai, Dis!” Yudha akhirnya memecah keheningan.

“Hai Bang Yudha” Balas Gadis sambil masih menunduk dan mengaduk kopinya.

Gadis belum mandi pagi ini. Dia tidak tahu seperti apa bentuk wajahnya ketika tiba di lokasi pemotretan dan terlambat selama 45 menit. Karena itu dia merasa lebih baik menunduk ketika ada orang yang mengajaknya berbicara.

“Sani jadi ke Bali hari ini, Dis?” Tanya Oli penasaran.

Gadis menggeleng singkat. “Besok. Besok siang pesawatnya dari Cengkareng”

Hening lagi.

Gadis beranjak dari lokasi coffee break tanpa mengatakan apa-apa kepada crew majalah. Dia ingin menjauh dari lokasi utama, namun pemotretan sesi pertama telah berakhir. Mau tidak mau Gadis harus menghampiri lokasi pemotretan. Dengan langkah yang berat Gadis berjalan menuju model utama yang masih berada di set.

“Starbucks, Dis! Starbucks!” Seru Sani sambil mengibaskan rambutnya. Sorotan lampu studio membuat keringat mengalir deras hingga ke leher jenjangnya.

“Iya, habis ini aku belikan Vanila Latte di Starbuck.” Jawab Gadis dengan masih menunduk.

Sani mengusir tim make up yang berupaya mengeringkan keringatnya dengan handuk dan berjalan mendekati Gadis.

“Elo kemana sih pagi tadi?”

“Ponsel aku silent. Sorry”

Silent! Sejak kapan?” Nada suara Sani meninggi dan membuat Gadis sedikit berjengit. “Gue itu calling elo ada kali 50 kali. Sialan! Kebo banget sih tidur elo.”

“46 kali, Nyet!” Sekali lagi Gadis mengutuk dalam hati

Fotografer menghampiri Sani dan mengatakan pemotretan sesi kedua akan dimulai 15 menit lagi dan Sani sebaiknya segera berganti pakaian. Namun Sani tidak menggubris perkataan fotografer tersebut. Dia justru meneriakkan nama Rayes dengan sangat keras, hingga seorang pria bertumbuh pendek dan gempal berlari kecil menghampirinya.

“Denger ya kalian berdua,” Sani menatap Gadis dan Rayes. “baju gue di Oscar ada sedikit masalah. Dia nggak mau anter gaun itu malam ini. Gue nggak mau tahu ya pokoknya, lo berdua urus tuh Oscar. Elo tungguin dia di samping mesin jahitnya sampai dia kelarin gaun gue. Kalau perlu, lo beli senjata api selundupan dulu buat ngancem dia, atau apapun lah! Pokoknya yang gue tahu itu gaun harus masuk koper sebelum gue flight ke Bali besok.”

Gadis menatap Rayes. Rayes balik menatap Gadis. Gadis menunduk menatap sepatu Sani yang ditaksir bernilai diatas 10 juta. Rayes ikutan menunduk menatap kuku jari kaki Sani yang dia nilai kurang sempurna saat manicure.

“Nggak bisa nitip orang aja? Kan gue nanti malem masih urus baju elo buat acara TV itu ciiint.” Rayes merajuk.

Sani menatap Gadis tajam, lalu meraih gelas kopi di tangan kiri Gadis.

“San… itu….kopi udah aku minum. Habis ini aku ke Starbucks beliin kamu kopi.” Gadis berbohong.

Sani menatap Gadis dan gelas kopi di tangannya dengan bimbang. Mengabaikan ucapan Gadis, Sani meminum kopi tersebut. Gadis hanya menelan ludah.

“Berengsek!” Umpat Gadis dalam hati.

“Elo tahu tempatnya kan, Dis?” Tanya Sani. Gadis mengangguk. Bagaimana tidak tahu, selama enam bulan terakhir Sani berkali-kali mengantar Sani ke tempat itu “Nah! Elo samperin Oscar ya malam ini ini. Jangan jalan sekarang. Gue belum selesai pemotretan. Terserah lo nanti malam mau sama Rayes atau minta ditemani sama yang lain. Gue hanya mau pakai gaun Oscar buat acara besok malam di Bali. Got it?”

Masih di alam bawah sadar, Gadis dan Rayes segera mengangguk sebelum emosi Sani memuncak.

Salah satu tim make up memanggil Sani untuk berganti pakaian.

“Awas aja ya nggak beres urusan gaun ini. Gue sudah cukup kesal elo terlambat pagi ini. Oh iya, jangan lupa Starbucks gue. Kopi elo sampah banget” Sani menyerahkan kembali gelas kopi milik Gadis yang kini tersisa seperempatnya saja, dan dia berbalik meninggalkan Rayes dan Gadis.

Gadis melipat tangan dan menghembuskan nafas. Matanya menangkap gelagat crew majalah yang berada di meja coffee break mendapatkan tontonan yang menarik. Namun kumpulan crew di meja tersebut segera balik kanan bubar jalan setelah mereka sadar Gadis memperhatikan mereka.

“Say, gue nggak bisa cabut ke Bandung. Nggak ada yang bisa gantiin kerjaan gue nanti malem.” Rayes bergelayut manja di tangan Gadis.

Gadis mengacak rambutnya frustrasi. “Diem dulu, Yes! Aku belum dapat kopi satu tetes pun hari ini. Aku belum bisa mikir.”

“Elo minta temenin si Ine deh ciint.”

“Nggak! Nggak!” Gadis langsung menolak usul Rayes. “Kelamaan. Aku jalan sendiri aja ke Bandung nggak apa-apa kok.”

“Jangan deh ciint… Elo sama supir agensi aja ya.”

Gadis melirik Rayes tajam. “Aku bisa jalan sendiri. Aku nggak perlu supir!”

“Aduh ciint…. Elo mau sampai kapan sih nggak percaya sama supir mobil? Capek sendiri deh idup elo kesana kemari nyetir sendiri. Gue khawatir juga kalau elo ke Bandung sendirian malem-malem. Elo mau sampai kapan sih nggak percaya sama orang lain?”

Sebenarnya ada satu orang yang dia percaya. Satu orang yang dia yakin nyawa dia aman jika bersamanya. Satu orang yang menghilangkan trauma Gadis tentang kecelakaan mobil. Gadis berniat menghubungi orang tersebut nanti sore. Siapa tahu dia bisa mengantarkan Gadis ke Bandung.

Gadis mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu kredit. “Aku mau ke Starbucks nih. Kamu mau pesan apa? Mumpung kartu kredit si Medusa ada di tangan aku.” Gadis tertawa kecil. Sementara Rayes menatap mulutnya dengan dramatis.

“Jahara kamu ciint. Nanti kalau Medusa tahu gimana?”

Gadis mengangkat bahunya dengan santai. “Kamu pikir, selama ini kalau aku ke Starbucks, aku gesek sama kartu kredit siapa?”

Gadis membawa mobil Sani. Gadis membawa kartu kredit Sani. Bahkan, salah satu ponsel Gadis diberikan oleh Sani. Namun dia tidak dapat menyingkirkan kenyataan bahwa menjadi baby sitter, atau bahasa profesionalnya menjadi Asisten Manager artis seperti Sani bisa memperpendek usianya. Bahkan berkaleng-kaleng kopi pun belum tentu dapat menyelamatkannya

 ***

Previous chapter Coffee Talk #1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s