AWKARIN AND ANYA GERALDINE ARE MY RELATIONSHIP GOALS! KYAAAA…!!!

Saya masih ingat waktu saya masih SMP, saya meminjam buku teman saya yang berjudul Kambing Jantan. Kali itu merupakan pertama kali bagi saya membaca sebuah buku isinya kumpulan postingan blog seseorang bernama Raditya Dika.

Blog itu apa sih?

Siapa yang bisa menulis di blog?

Kenapa orang harus menulis blog?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul di otak anak 13 tahun di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Di buku Kambing Jantan diceritakan Radit sekolah S1 di Australia, dimana ketika mau akses internet dia cukup buka laptop saja. Sementara saya? Harus naik sepeda atau naik becak dulu ke warnet di Pasuruan. Trus begitu di warnet, kanan kiri saya mainnya MIRC brooo…

Berkat bukunya Radit, saya tau apa itu blogspot, hingga membuat akunnya. Berkat Radit, saya mulai suka menulis. Saya berani menulis cerita agak nyeleneh seperti yang Radit tulis. Meski ketika sudah beranjak dewasa, saya tidak seberapa intens lagi mengikuti karya Raditya Dika. Nama Raditya Dika semakin melejit karena dia punya talent. Dia jadi artis. Nerbitin buku. Pacaran sama penyanyi trus putus. Terakhir kali sih mengikuti Malam Minggu Miko di Youtube. Ini cerdas sih serial malam minggu Miko kalau menurut gue. Hiburan berbeda via Youtube.

Youtube!

Berapa banyak sih subsriber Radit di Youtube? lebih dari dua juta. Video dia juga dilihat 400 – 700 ribu orang. Apa sih isinya? Banyak. Lo cek sendiri lah kayak nggak punya kuota aja. Apakah Radit ada VLOG? Ada! Apakah layaknya VLOG masa kini yang menceritakan sehari-harinya? Yess! Tapi, Radit kan sudah jadi artis sebelumnya. Jadi isi VLOG dia ya acara dia jalan kemana, atau masak sama siapa, meeting sama artis ini dan itu, yang terakhir sih sama finalis stand up comedy.

Siapa lagi sih orang Indonesia yang aktif di Youtube?

Ada Bayu Skak! Somehow gue bangga sama Bayu ini karena dia tampil di Youtube dengan “Cak Cuk” khas Jawa Timur dan logatnya yang medhok. Isi Youtube dia juga absurd banget sampai rekaman dia bikin lagu dengan 100% bahasa Jawa. Pada akhirnya Bayu di endorse beberapa toko online yang kabarnya nih, membayar dia dengan biaya lumayan. Dia juga jadi bintang tamu disana-sini, dan…main film! Apakah dia punya talent? Saya rasa dia unik, dan itulah talent dia. Tapi pamor bayu masih terbatas. bahkan belum ada dua ratus ribu orang yang subsribe channel youtube dia.

Beralih lagi ke youtubers lain. Ada yang tau Rich Chigga? Bocah 16 tahun yang membuat dunia hip-hop kebingungan. Tidak ada yang percaya remaja keturunan Tionghoa yang tinggal dan besar di Jakarta ini bisa membuat rap lagu dengan baik, dan berbicara dengan american slang seperti dia dilahirkan dan dibesarkan di Detroit. Sakitnya lagi, ni bocah juga membuat beberapa short movie di video Youtube miliknya dengan kualitas yang….. Nggak main-main kalau kata saya.Rich Chigga atau yang memiliki nama asli Brian Imanuel. Video klip dia “Dat Stick” dilihat lebih dari 16 juta. 16 JUTA BROOOO!!! (kan gue udah bilang tadi kalau ni bocah sakit!)

There’s more! kalau Radit dan Bayu Skak terkenal dengan ke-absurdan mereka (yang keselnya kasih mereka banyak duit) dan Brian Imanual dengan style hip-hop dia, ada Eka Gustiwana yang jago medley lagu. Semua lagu di medley. Orang baca berita juga dibikin lagu, bahkan ringtone Nokia juga di Mash Up. Once again, Talent!

Intinya nih yaa… Youtube memunculkan fenomena bahwa “Lo mau jadi artis? Bisaaa! Lo bikin aja video aneh dan apaa gitu, upload, banyak yang nonton dan subscribe, lo terkenal! Lo dapat duit”

lalu muncullah sosok seperti Awkarin dan Anya geraldine.

giphy

Remaja yang nggak bisa jadi artis di TV , akhirnya memilih channel Youtube dan Instagram untuk menyalurkan hasrat eksis mereka.

Kemarin saya sempat buka VLOG Anya Geraldine (Walau temen gue ngotot bilang “Lu nonton Youtube dia, viewers nya nambah tauk) Tapi kan saya mau riset. Saya perlu tahu, apa sih yang mereka lakukan di YT hingga membuat ibu-ibu jengah dan melaporkan mereka ke KPI.

Saya rasa, Awkarin dan Anya tidak ada bedanya dengan Radit, Bayu, dan artis Youtube lainnya. Mereka mau go viral. Mereka mau dikenal (Walaupun Radit juga bikin Youtube setelah dia terkenal). Itu hasrat manusia. Wajar.

Hanya memang bagi saya, konten Awkarin dan Anya ini kosong sekali. Tidak ada yang unik. Tidak ada talent. Tidak ada pesan yang mau disampaikan. hanya pantat Anya yang kemana-mana dibalik bikininya, dan cipokan sama cowoknya. Bahkan konten Kardashian yang menurut saya sampah, masih lebih sampah konten VLOG Awkarin dan Anya. Mereka nggak unik. Dan sorry… mungkin mereka punya talent. Mungkin. Tapi mereka tidak mau menunjukkan talent tersebut dan memilih jalan shortcut. Ngomong Anjing dan kawan-kawannya, nangis ketika diputusin, serta pakai bikini dengan ciuman sama pacar.

r1kecdt

Saya sih melihatnya mereka menginginkan “acceptence” dari orang yang sejenis. Awkarin dan Anya tidak butuh acceptence dari kaum elit, kaum borjuis pemegang saham, atau orang politik. Mereka hanya mau diakui oleh golongan yang setara dengan mereka, which is… para remaja.

Banyak yang menjadikan Awkarin dan Anya jadi “Relationship Goals” mereka. Gini ya, ketika melihat VLOG Anya, dia liburan di Bali. Naik Garuda. Disana stay di resor mewah yang gue tahu itu bayarnya harus pakai dollar, or at least jutaan banget. Lo nggak bisa punya kehidupan seperti itu kalau ortu lo bukan orang kaya. Dan lo nggak akan meraih “goals” itu kalau yaaa… sorry… strata ekonomi elo sama kayak gue. Ya gini-gini aja. Percayalah guys, kita memang bisa merubah nasib kita sendiri. Tapi ada pemegang kepentingan di atas sana yang sudah mengatur siapa yang harus kaya dan siapa yang tidak. That’s the reality!

giphy1

Saya jadi berpikir, apa yang dipikirkan anak SMP ketika melihat YT Awkarin dan Anya? Apakah hampir sama seperti saat saya membaca buku Radit? Saat itu, keesokan harinya saya langsung ke warnet mencari tahu tentang blog dan mencoba menulis disana. lalu, bagaimana dengan mereka yang terpapar video Awkarin dan Anya? Apa yang mereka lakukan keesokan harinya? Beli tiket pesawat ke Bali? Ngatain Ibu sendiri Jancuk? Posting foto ciuman sama pacar? Goals itu bukan hanya masalah lo punya cowok kaya, lalu lo liburan di Bali, kissing, showing it of di YT dan sebagainya. Oh… WAKE UP! Saya yakin banyak Goals lebih berharga daripada sekedar membuat seluruh dunia mengetahui kalau lo cipokan sama cowok elo.

Kita ini kan hidup di kelompok sosial yang mengarah keatas. Jika kita bersama kelompok di lapisan kelas 1, kita ingin naik ke lapisan atas di kelas 2. Setelah berada di kelas 2, kita masih ingin naik terus ke tingkat 3. begitu seterusnya. Anya dan Awkarin ingin terus naik ke lapisan sosial paling tinggi melalui Youtube dan sosial media.

Banyak lho remaja Jakarta yang cantik, punya tato, bahkan nyimeng, tapi mereka tidak perlu membuat Vlog dan upload IG macam Anya dan Awkarin. Kenapa ya? Bisa jadi karena kelompok sosial mereka tidak menuntut mereka untuk seperti itu. Seperti Raisa let’s say. Misal Raisa upload video di IG isinya dia bilang good morning aja yang like bisa ratusan ribu. Misalkan dia posting video di YT dia latihan vocal aja, pasti yang nonton diatas seratus ribu deh. Mungkin karena Raisa menggunakan chanel tersebut untuk menyapa fans dia dan promosi album serta single terbaru, bukan untuk dapat perhatian dan sensasi.1441804772_raisa

Jadi apakah ini sepenuhnya salah Awkarin dan Anya? I’m gonna say NO!

Ada faktor lain yang mendukung Anya dan Awkarin bersikap binal luar biasa di media sosial. Bisa jadi salah satunya faktor keluarga, lingkungan, kelompok sosial, strata, akses yang mereka miliki untuk bikin vlog dan pemotretan di IG, dan paparan media sendiri. kalau mereka sudah salah karena paparan media, dilihat lagi, perilaku kebarat-baratan itu apakah efek cengkraman globalisasi media di Indonesia? Nah, kalau begitu siapa yang salah bila sudah berada di posisi ini.  Kalau ditarik lagi jadi makin panjang dan saya sendiri ikutan serem ngomonginnya. Bisa jadi, kita dan Awkarin serta Anya hidup di circle yang sama karena kita mengkonsumsi media yang sama pula, tapi karena Awkarin dan Anya punya akses untuk eksis, ya sudah mereka jadi begitu. Pusing gak lo? Gue sih sudah pusing dari kemarin. SEBENARNYA GUE HIDUP DI DUNIA SEPERTI APAA??? Makanya saya lebih memilih menulis di blog dengan struktur dan teori dari sudut pandang saya, dari pada nyinyir dan meninggalkan hateful comment.

So please, stop deh menjadikan Anya dan Awkarin sebagai rekationship goals. Bisa punya relationship aja itu sudah goals. Eeeaaa…. Nggak cuma Anya dan Awkarin saja sih, mari kita lihat Brad dan Angelina. Lalu Taylor dan mantan-mantannya. “Goals” sebenarnya dalam relationship adalah menjadi yang terbaik untuk pasangan kita. Bukan meniru gaya pacaran pasangan lainnya. (Sok bijak banget)

It’s okay if you want to go viral. Go ahead! Anak muda Indonesia ini kreatif kok. Apa saja bisa dijadikan uang. Tapi pilihlah jalan yang punya “dignity” seandainya mau go viral. Raditya Dika, Bayu Skak, Eka Gustiwana dan Rich Chigga adalah segelintir contoh yang saya berikan bahwa bisa kok go viral dengan kemampuan kalian atau ke-absurdan yang kita miliki. Rich Chigga saja bicara kotor di Youtubnya tapi tidak ada yang mempermasalahkan karena viewers fokus kepada rap dia. Bahkan banyak viewers dan followers dia berasal dari luar negeri, yang mana less remaja alay. Masih banyak kok Youtubers lain yang nggak kalah keren dan masih punya “dignity”.

Do not exchange your dignity for popularity. No relationship is ever worth sacrificing your dignity or self respect for.

Jadi…jadi…. Relationship goals elo seperti apa, Moo?

tenor

 

Dududududududu….

Masih harus review Jurnal nih. Bhay!

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s