Review The Secret Life of Pets: Kok Gue Jadi Baper Sih…

the_secret_life_of_pets_poster

Ini film sudah premier di U.S dari Juli … Tapi gue baru nonton tadi banget di XXI Jakarta. Termasuk udah basi belum sih? Atau memang sudah lama dia masuk ke Indo?

Anyway, kenapa gue sempatkan review film ini ditengah padatnya deadline review tugas dan paper? Karena ini lucu banget sumpah! (Atau mungkin saya saja yang lagi butuh ketawa ngakak sama banyak orang saat momen menonton film ini?)

Sebenarnya saya melihat Pets ini reuninya Despicable Me. Iya juga yaa! orang di poster film udah ditulis gede-gede “FROM THE HUMANS BEHIND DESPICABLE ME” LOL. Lihat dulu siapa sutradaranya. Chris Renaud yang juga director Despicable Me 1 and 2. Rating di IMDb juga lumayan (6.8/10) dan Rottentomatoes (74%.)

Sebenarnya ada beberapa hal yang menarik pemikiran saya dari film, yang katanya cowok temen saya yang ekspat adalah, “Film anak-anak banget”

 

  1. Every Creature Needs a Love

gidget_secret_life_pets

Iyuh banget sih sub judul gue. Ini gue kesambet apaaa coba??? Tapi iya! Gue sempat blank beberapa seconds di tengah-tengah film gara-gara ini. Ada adegan dimana Gidget, anjing putih imut yang demen nonton telenovela, berusaha mengajak Pets lainnya untuk mencari Max yang saat itu hilang dan jadi buronan Mafia (apa sih). Gidget memang sudah lama naksir Max. Tapi Max cuek bebek. Iya! Berasa drama korea gitu gak sih? Kesel gue! (Apa sih Moo kok elu yang sensi?).

Lalu ketika hewan peliharaan lainnya merasa, “yaudah siih entar Max juga balik sendiri”, Gidget tetap kekeuh ingin mencari Max. Hingga Pug berkata, “Why do you care about Max so much? He doesn’t care about you at all!”. Lalu Gidget menjawab, “I don’t care. Because I love him for all of my heart”. Eeeeeaaaaa…. Dan hasilnya, Pets yang lain luluh dan ikut membantu Gidget. At the end, Max even said thank you to Gidget and kissed her (Not literally!)

Bro, anjing aja nggak masalah bro cintanya bertepuk sebelah tangan. Yang penting perasaan kita tulus. Dengan ketulusan tersebut, siapa tahu si doi akan sadar dengan sendirinya. Lalu bisa juga perjuangan kita kepada doi akhirnya akan dilirik juga sama doi. Kan semua ada waktunya. Kalau enggak? Yaa… siapa tau ada orang tulus lainnya yang bisa menggantikan. Max aja bisa luluh sama Gidget. Dia Anjing lho padahal. Nah elu, sok idealis dan sok nggak demen. Ckckckck….

Ada lagi adegan dimana Max membujuk Duke untuk pulang ke rumah tuannya yang lama. “Kenapa sih lo nggak coba cari tuan elo?” tanya Max. “Yaa dia nggak pernah berusaha cari gue juga sih.” Jawab Duke.

Lalu Max dan Duke berdua pergi ke rumah Tuan Duke. Ternyata Tuannya Duke sudah meninggal. Rumahnya sudah ditempati oleh keluarga lain yang memelihara Kucing. Duke kesel sama Max. “WHY DID YOU BRING ME HERE!”. Apa yang dilakukan Duke ini denial, bro! Tidak mau menerima kenyataan pahit. Habisnya, minta dicari terus siih. Minta dijemput bola melulu. Sekali-kali, situ duluan yang mulai mencari gapapa kalik. Supaya tidak ada penyesalan di akhir seperti Duke. Kadang ada yang suka gitu sih. “Lah, tau gitu gue gak usah PDKT sama elo”, atau, “Ngapain gue sematkan nama elo di dalam doa, kalau pada akhirnya lo lebih memilih dia!” Setdah! FTV abis! Tapi gue percaya, semua itu tidak ada yang sia-sia. hanya perlu ketulusan dan kesabaran hati aja sih. Oh iya, dan usaha!

Nah, nggak salah kan kalo gue lebih baper nonton ini film daripada waktu gue mewek-mewek nonton Miracle in Cell No.7 dan The Notebook?

2. There Is Nothing You Can’t Do. Now You’re in New York!

cute-bunny

Struktur sosial masyarakat New York masa kini tergambar jelas di film ini. Hebat yaa. Padahal manusianya cuma dikit banget lho dapat adegan.

Lihat deh apartemen kotak-kotak yang tinggi menjulang. Para penghuni apartemen itu berdempetan. Namun perubahan struktur sosial membuat hubungan antar manusia itu makin menjauh di apartemen yang berdekatan. Hasilnya, hewan peliharaannya yang rumpik. Dugem di rumah majikan. Hingga berpetualang ke selokan. Manusia di film ini digambarkan super mobile. Pergi pagi dan pulang malam. Sesampainya di rumah, mereka langsung mencari hewan peliharaan mereka. Mengelusnya. Mencium. Memberi makan. mengatakan “good boy”. Bagi mereka, berinteraksi dengan hewan adalah meditasi dari kelelahan mereka setelah seharian penuh berinteraksi intens dengan manusia, dan riuhnya New York. (Gue belum pernah ke New York sih jadi belum kebayang banget gimana hectic nya.)

Dan juga disini gue lihat manusia jadi objek lho. Miris juga ketika gue dan penonton lainnya ngakak di bioskop, padahal ada protes yang disampaikan melalui hewan-hewan ini. Seperti si Tattoo, Seekor Babi yang jadi korban percobaan tato dan piercing. Ini hewan sudah jadi objek industri budaya manusia. Gue pernah melihat ada Kucing yang diperlakukan sama seperti Tattoo. Gue marah! Kesel! Tapi yaudah, gue bisa apa selain maki-maki tuh orang di Instagram. Dan gue rasa adanya karakter Tattoo ini menarik. Tapi apa? Orang tetep ketawa kan liatnya? “Hahaha… ada babi badannya penuh tato dan telinganya di tindik” Padahal Babinya nggak salah. Kita aja yang keterlaluan.

1006029320-oh-col-petesecon

Tidak heran ketika Snowball dan geng nya itu membuat keributan di jembatan Brooklyn karena mereka geng anti manusia! Tidak mau menjadi Pets yang hanya dielus-elus dan diberi makan majikan. Pecah lah itu New York dan Brooklyn. Lebih pecah dari saat Batman mengejar Joker di Gotham.

Di film ini yang antagonis adalah Snowball (Walau di ending plot twist dia jadi heroik). Lalu gue mikir… Kenapa yah kelinci? Kenapa harus karakter kelinci? Kelinci kan terkenal imut dan disayang banyak orang. Di Jawa Timur aja Kelinci dibuat sate! Lalu, kenapa harus sosok kelinci yang jahat disini? Kenapa bukan buaya? Ular? Atau Ikan Paus gitu?

Dari sudut pandang gue (Nggak usah dikaji mendalam dengan semiotik atau teori kritis dan positivistik kali yaaa…), gue inget pernah mendengar frase “Scared as a Rabbit”. Maksud frase ini karena Kelinci disimbolkan hewan yang lemah, rapuh, dan selalu takut dengan makhluk hidup lainnya. Terutama predator. Lha di film ini Si Snowball malah jadi Boss nya buaya dan ular. Jadi ini semacam…. (Aduh gue blank cari kata yang tepat gara-gara ada berita Gatot di TV)…. Semacam…. Simbol pemberontakan? Simbol perlawanan mungkin ya. Rebel gitu lah. “Liat nih… Kelinci yang imut aja bisa jadi phsycho kalau manusia tidak bisa memperlakukan hewan peliharaan dengan manusiawi. Eh, dengan hewani.”

Kok, jadi serius banget? Harusnya kan baper. Iya nggak apa-apa biar seimbang. Hidup kadang nggak hitam dan putih aja sih. Ada abu-abu juga. (Mulai nggak fokus).

Overall, I love this movie. Buat ketawa-ketiwi oke banget. Ditonton sama keluarga juga nggak masalah. Pace nya cukup cepat, sehingga tidak membosankan. Pengisi suaranya superb!!! Yang pasti, saya suka dengan pesan moral di film ini. Mungkin saya melihat dalam perspektif yang agak nyeleneh. Tapi karena ini blog saya, jadi saya punya kekuasaan untuk melakukannya. MUAHAHAHAHAHA!!!!!

Well, it’s late already. Morning sih. The sun is coming up in a few minutes, dan obat flu gue sudah mulai bekerja, dan………………..

 

 

 

Zzzzzzzz………..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s