Mungkin Ini Alasan Ortu Ingin Kamu Cepat Menikah

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan link dari seorang teman via telegram. Link tersebut berisi artikel yag ditulis oleh wanita (yang sepertinya) sudah cukup umur untuk menikah.

Intinya, Mbak di artikel itu berpesan: “Buat apa sih cepat-cepat menikah?”

Iya. Buat apa?

Ya mana gue tau! Alasan setiap orang kan berbeda. *terus jadi sewot*

Santana-glee-rolling-eyes-festivals-gif

Sebenarnya dia cuma mau pesan, kalau mau nikah ndak usah pamer di sosial media atau gimana gitu. Dan lebih baik merawat anak yatim piatu dari pada punya anak sendiri. Di awal juga Si Mbak sudah ngeclaim kalau dia tidak pernah berpikir untuk menikah. Jadi saya memperluas paradigma dan imajinasi saya.

Saya membayangkan Si Mbak adalah amoeba yang berkembang biak dengan membelah diri.

(Namanya juga imajinasi. Udah gak usah nyinyir!!!)

tumblr_m6cppt5t2s1rysca1o1_500

Saya sendiri, di usia saya yang twenty somethin ini, sering mendapat pertanyaan “Kapan Nikah?” dari orang-orang sewot bin kepo. Tidak terkecuali Ibu saya. Kayaknya dia lebih bahagia denger kabar saya dilamar deh daripada denger kabar saya lolos SIMAK UI. Huuffttt…

Kalau saya melihat dari sudut pandang Si Mbak itu, wanita yang karirnya sukses, yang nulisnya jago dan yang baca artikelnya ribuan… Nggak kayak blog gue…. Mungkin wajar kalau Si Mbak berpikir menikah itu nggak perlu karena merasa tidak ada laki-laki yang cukup pantas. Beberapa teman saya yang wanita karir juga begitu. Gajinya gede. Jalan-jalannya ke maldives, eropah, minimal phuket. Sebagaian besar mereka menganggap Married is not on the first place.

Tapi…..

Kali ini saya mencoba melihat dari sisi orangtua.

Ini yang akhir-akhir ini saya rasakan. Kakak saya mau menikah. Lalu Ibu saya bolak-balik bilang ke orang lain, “Ya alhamdulillah udah nikahin kakaknya… tinggal satu lagi PR aku.”

Bayangkan! Menikahkan saya dianggap PR oleh Ibu. Opo aku nggak ngenes? Kurang dosa apa aku sampai kasih PR ke orangtua?

tumblr_ndn3nt65b71r62mtoo1_500

Lalu saya mikir….. Oh iya yaa. Ibu ini sudah puluhan tahun merawat aku. Mulai aku lahir, sampai aku di operasi umur 3 bulan gara-gara benjolan gak jelas di kepala, lalu aku masuk TK dan boker di celana, lalu aku masuk SD dan nggak pernah ranking 3 besar dan Ibu bilang “Nggak apa-apa, ranking nggak penting” padahal mah dia jadi nggak bisa pamer sama ibu-ibu lainnya.

Sampai saya mens untuk pertama kali dan bingung “INI SEHARI HARUS GANTI PEMBALUT BERAPA KALI SIIIH???” Karena rasanya saya perlu ganti setiap lima menit saat itu. Lalu saya jadi trouble maker di SMP dan nggak sengaja nyiram guru PKN sama aqua dan ortu di telfon sama BP. Hufft. Itu semua Ortu yang urus.

Lalu sampai saya SMA di kota lain. Ngekost sendiri. (Ngekost nya di rumah Budhe sih). Dan setiap Minggu Ibu dan Ayah menyempatkan diri ke Malang dari Pasuruan untuk jenguk anaknya. Dan kasih uang jajan. Belum lagi saat itu saya minta les ini itu dengan biaya yang bisa dibilang…. tidak murah. Lalu SMA yang jauh dari rumah budhe membuat saya malas naik angkot karena harus oper 2x. Jadilah Ibu membelikan saya sepeda motor.

Sampai akhirnya saya lulus SMA dan peringkat 3 besar UN, lalu maju kedepan dan disyuting sama TV lokal. (Ini niat pamer banget ceritanya). Sampai saya kuliah 8 semester dengan uang gedung dan SPP yang makin semester makin naik. Belum lagi Ibu harus menghadapi drama ketika anaknya kuliah dan lupa kalau punya rumah. Pulang ke rumah hanya tidur, boker, makan. Pagi-pagi cabut lagi ke kampus sampai malam.

Saya rasa Ibu lelah. Ibu kita lelah. Orangtua kita lelah.

Mereka tidak mengatakannya. Tapi itu yang mereka rasakan.

Sekian tahun ngurusin anaknya, somehow dia ingin anaknya bisa mengurus anak orang lain, atau diurus orang lain.

Bahasa kasarnya, ingin anaknya MINGGAT dari rumah dan membuat kehidupan baru bersama orang yang anaknya cintai. Ibu telah melahirkan kita, dan Ibu ingin melihat anak yang dilahirkannya memiliki kehidupan sendiri.

Anak yang belum menikah itu jelas beban bagi ortu. Termasuk beban biaya. Bagus-bagus kalau bisa danai pernikahan sendiri 100%.

Ini saja Ibu saya sudah bingung dengan biaya nikah saya. Siapa tahu, selama ini Ibu menahan diri tidak membelanjakan uang pensiunnya secara impulsif, demi tabungan untuk menikahkan anaknya. Siapa tahu sebenarnya Ibu mau Umroh. Atau beli tanah. Atau beli sapi. Atau beli pohon jengkol. Atau jalan-jalan ke Finland lihat aurora biar nggak klah sama Teteh Syahrini. Tapi masih mikir….. “Masih ada 1 anak lagi yang belum nikah. Nanti saja.”

Bisa jadi.

Ya nabung sendiri dong!

Beberapa orang punya kemampuan finansial untuk itu. Beberapa tidak. Beberapa masih menggantungkan orangtuanya. Dan beberapa orantua masih ngotot ingin membiayai pernikahan anaknya meskipun tidak 100%. Ingat, prioritas dan kondisi ekonomi tiap orang beda, boss!

Dan terkadang kita terlalu egois untuk, “Aduuhh aku nggak ada kepikiran buat nikah.”, atau “Ah mau S2 dulu…. S3 dulu….”. Padahal semua itu hanya kata-kata bullshit yang menggantikan pengakuan: “NJIR GUE GAK LAKU!!!!!” :):):)

tumblr_l904c2K7jX1qds55lo1_400

Hahaha. Kidding boss!

Saya sering lihat postingan parenting di fesbuk. Biasanya yang share para mamah-mamah muda yang resign dari kerjaan buat urusin baby dan jadinya mereka memiliki banyak waktu santai buat fesbukan positif. Dalam share tersebut ada tulisan awal menjadi ortu itu menakutkan. Gitu siih kata Mahmud. Seperti perahu yang berlayar. “Boro-boro mau berlayar. Ini ngelahirin baby aja ibarat aku masih jahit layarnya.” tulis salah satu teman saya.

Jadi, sudah berapa lamakah orangtua kita “berlayar”? Tidakkah mereka perlu berlabuh? Dan mungkin sebagian besar dari mereka akan berlabuh ketika melihat anaknya menikah. Dan tegakah kita memaksa orangtua kita untuk berlayar terus? Mau sampai kapan kita menumpang “kapal” mereka? Kapan kita siap untuk menjadi nahkoda di “kapal” sendiri?

giphy1

Kembali ke artikel Si Mbak yang saya baca. Saya nggak bilang Si Mbak perspektifnya salah. Saya juga nggak bilang benar. Dari Si Mbak yang nulis artikel itu tadi, dia bilang laki-laki jaman sekarang nulis skripsi aja nggak kelar. Gimana mau nikah? Gimana berani urus anak orang? Lalu dia membandingkan dengan nama-nama laki-laki cendekiawan jaman Nabi dahulu yang karya tulisnya bejibun. Sekali lagi saya mencoba memperluas paradigma.

Mungkin mbaknya butuh pembimbing tesis atau disertasi. Bukan suami.

Lalu Si Mbak menulis…. Lengkapnya saya lupa. Tapi inti yang saya tangkap, dan ini bisa saja salah dari maksud Si Mbak… Si Mbak merasa kalau hanya menikah untuk punya anak, ya mending nggak usah nikah. Urus saja anak yatim. Pahala lebih banyak. Ada di Al-Qur’an dan Hadist. Iya. Benar. Tapi kalau semua ngurusin anak yatim, yang mau ngelahirin anak siapa? Apa kabar bidan dan Dokter OBGYN? Kasian dong nggak ada pendapatan mereka. Udah sekolah mahal-mahal juga sampai jual sawah di kampung. It’s okay. Semua ada porsinya. Ngelahirin anak sendiri dan urus anak yatim barengan juga bisa kok. Santaaiii.

Karena kita mencari pasangan hidup… Bukan DEWA 19 jaman Ari Laso masih jadi vokalis dengan rambut gondrong dan celana jeans gombrang. Bukan juga Andra & The Backbone yang nyanyi “Sempurna”, dan sekarang nggak tau tuh mereka mau rilis lagu baru lagi atau bubar.

Udah ah. Saya nggak bisa kebanyakan petuan tentang pasangan hidup. Saya bukan Tere Liye *ouch*

Ini refleksi untuk saya sebenarnya. Tulisan ini juga untuk saya. Yang mana selalu eager to reach more. High achiever. “Oke, saat semester 2 pascasarjana gue mau ambil tes GRE dan IELTS. Gue mau persiapan ambil piejdi politik di Amrik kalau Donald Trump nggak jadi presiden. Kalo doi jadi presiden, mending gue piejdi di Yuke aja”. Lalu Ibu akan nyeletuk. “Nggak! Nikah dulu”. dan saya mikir, “Ah, itu gampang! Bisa disempilin dimana aja.”

Nah.

Keegoisan kayak gini yang harus dikurangin, Moo.

Mungkin saya risih ketika Ibu bilang “S2 sambil nikah lho gapapa….”. Tapi mana say tahu, bisa jadi Ibu saya juga risih ketika ditanya terus temannya, “Kapan mantu?”. Bisa jadi Ibu iri melihat temannya menggendong cucu, tapi beliau hanya diam dan ikhtiar dalam hati. Bisa jadi setiap Ibu membantu menjadi panitia nikahan temannya, Ibu diam-diam melirik ke pelaminan dan berharap suatu saat bisa duduk bersama anak, menantu, dan besan disana. Tapi Ibu diam. Ibu berdoa.

*Emang elu Moo ditanyain kapan nikah dikit udah nyinyir gak karuan di sosmed. Huuuu….*

tumblr_mgqjwhZ9Yw1rtjtmao1_500

Belajar menyeimbangkan antara prioritas diri sendiri dan orangtua. Kamu udah dewasa, Moo. Your mother has done enough. Now it is your time to biuld your own ship and sail.

Hati-hati Moo, bisa jadi alesan ingin meniti karir dan pendidikan ini sebenarnya hanyalah kedok untuk bersembunyi. Bersembunyi dari kenyataan bahwa kamu ini hanya pecundang yang cuma bisa numpang kapal orang, dan tidak punya courage untuk membangun kapal sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s