Paradigma Kopi

DSCN1969Dulu saat masih bertugas di penempatan ketika menjadi Pengajar Muda, saya sangat suka momen turun atau naik gunung dari desa saya ke Ibukota Kabupaten Mura Enim. Saya suka menjulurkan kepala saya dari L300 yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk dapat mengangkut banyak penumpang dan juga material seperti pasir, semen, ayam, bahkan Kambing.

Mengapa?

Saya sangat suka menghirup wangi bunga kopi yang bermekaran. Benar-benar aroma adiktif yang tiada tandingannya. Ditambah lagi dengan angin bukit yang menerpa-nerpa wajah saya. Lewat lah itu Telenovela maupun FTV. (Alasan lain sebenarnya karena banyak penumpang yang muntah di L300. So I deserve to get a fresh air!!!)

Persepsi saya tentang kopi banyak berubah selama setahun tinggal di lereng bukit barisan, Desa Danau Gerak di daerah Semende. Sebelum kopi menjadi “lifestyle” seperti saat ini. Sebelum kopi menjadi bisnis untuk para entrepreneur muda. Sebelum kopi dibuat film di layar lebar, hingga orang-orang berebut membeli kopi dari berbagai pelosok Indonesia.

Saya termasuk pecinta kopi. Amat. Sangat. Cinta.

Kebetulan orangtua saya juga “freak” dengan yang namanya kopi. Saya mulai aktif minum kopi saat kuliah.  Ketika saya memutuskan untuk merusak lambung dan ginjal saya, juga periode tidur saya dengan yang namanya kafein.

I CAN’T IMAGINE ONE DAY WITHOUT A COFFEE! I CAN’T!!!One day one cup of coffee. Itu sudah minimum bagi saya.

Karena dari itu, ketika saya tahu desa penempatan saya selama satu tahun kedepan adalah daerah penghasil kopi terbaik di Sumatera Selatan, rasanya saya ingin mandi kopi saat itu juga.

Baru kali itu saya melihat langsung kebun kopi. Baru kali itu saya memetik biji kopi yang ranum dari pohonnya. Baru kali itu saya merasakan kopi yang saya tahu proses perjuangan membuatnya seperti apa.

Berbeda dengan paradigma Ibukota tentang kemewahan dan kenyamanan kopi, Kopi Semende tidak mewah. Kopi Semende tidak nyaman.

Heran saya melihat para petani kopi itu ketika pukul 6 pagi sudah berangkat ke kebun kopi mereka yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman. Sementara saya jam 6 pagi masih jongkok di depan tungku, memutuskan mandi atau tidak. Sekitar 60-30 menit sebelum adzan maghrib berkumandang, mereka baru kembali dari kebun.

Cara menanamnya masih konvensional. Cara kuno dan tidak sepenuhnya organik. Begitu sih kata dua mahasiswa asal Australia yang saat itu melakukan penelitian kopi di Semende. Mereka masih mengambil bibit dari pohon liar di tanah. Kopi dari kebun dijemur di pinggir rumah, atau bahkan jalan depan rumah. Mereka tidak tahu cara menjemur dalam dome.  Kalau hujan, sudah tidak terbayangkan repotnya mengangkat berkilo-kilo biji kopi yang masih basah itu.

Biji kopi harus benar-benar kering supaya Tokek atau Tengkulak dapat membeli dengan harga yang pantas. Rp16.000 – Rp22.000 adalah harga rata-rata untuk satu kilo biji kopi. Tidak pernah pasti. Kalau di Semende mereka menyebut biji kopi adalah kawe, yang ternyata merupakan turunan dari bahasa Arab “kahwa” yang artinya kopi.

Uang hasil menjual kopi tadi digunakan ke Kalangan atau pasar mingguan. Yah untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Membeli kaos kaki anak, popok bayi, rokok si Bapak, dan bahkan susu ataupun Sarden.

Seorang nenek ingin foto cucunya di cetak ukuran 5R. Nenek tersebut menitipkannya kepada saya. Saya cetakkan ketika saya ke kota. Total Rp. 10.000.

“Utang dulu ya win…. Kle ku bayar amu kawe lah kering.” (Hutang dulu ya Win. Nanti aku bayar kalau kopi sudah kering). Saya hanya mengangguk sambil langsung membalikkan badan sebelum syaraf-syaraf di mata mengeluarkan benda cair.

Meskipun beberapa warga desa memiliki kebun yang luas, tidak semuanya mendapatkan hasil yang maksimal. Panen kopi hanya satu tahun sekali. Selainnya hanya kopi selingan. Dikala musim panen, Ibu-ibu akan mengajak 3-4 ibu-ibu lainnya untuk memetik kopi. Mereka melakukan hal tersebut secara bergiliran. Bagi yang kebunnya dekat, mereka bisa berangkat pagi dan pulang petang. Namun bagi yang kebunnya sudah benar-benar di lereng bukit, mereka biasanya bermalam di dangau. Di tengah-tengah hutan. Terkadang harus jauh dari istri dan anak. Bahkan terkadang membawa anak yang masih bayi untuk hidup di dangau selama berbulan-bulan.

Mereka biasanya menyimpan beberapa kilo biji kopi untuk di sangrai sendiri dengan kayu bakar dan kuali besar. Setelah itu biji kopi ditumbuk di lesung hingga halus sekali. Itu adalah kopi yang akan mereka konsumsi sendiri, dan mereka hidangkan kepada tamu. Karena kapasitas mereka hanya sampai menjual beans ke tengkulak. Tidak sampai memproduksi masal kopi bubuk dalam kemasan.

Warga di Desa Danau Gerak tidak pernah tahu ada kopi yang dijual segelas seharga Rp30.000. Mereka tidak tahu ada film tentang kopi yang mendadak membuat banyak orang menyukai kopi. Mereka tidak tahu kalau kopi Semende dikemas kembali di Amerika dengan harga yang berkali-kali lipat. Mereka tidak tahu apa itu roasting, brewing, vietnam drip, pour over, dan sebagainya.

Yang mereka tahu, dikala matahari sudah muncul, mereka harus bergegas pergi ke kebun. Meninggalkan anak mereka yang masih kelas 2 SD untuk mengenakan seragam dan sarapan sendiri.

Yang mereka tahu, mereka harus mendapatkan biji kopi yang kering supaya ketika ada kalangan, mereka dapat membeli sekedar satu kaleng sarden dan susu.

Yang mereka tahu, kebun itu adalah hidup mereka. Yang mereka persiapkan untuk biaya sekolah, hingga menikahkan anak mereka nanti.

Karena setiap butir biji kopi yang telah berubah menjadi kopi hitam panas adalah cerita tentang kerja keras mereka, sebelum akhirnya mereka menyeruput kopi tersebut untuk menghilangkan lelah sekembalinya dari kebun.

Seperti yang saya bilang,  Tidak ada kemewahan dan kenyamanan dalam kopi Semende.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s