Review Skin Care: Episode Dari Produk Korea Hingga Kosmetik Zaman Emak

 

landscape-1486136037-best-budget-skincare-reviews

Source: Cosmopolitan

 

BRACE YOURSELF COZ THIS IS GONNA BE LONG

Disclaimer dulu deh di awal…. aku bukan tipe-tipe beauty blogger yang reviewnya mendalam dengan foto-foto ciamik. Karena sebelumnya juga belum pernah review skin care sih. Eeehh… sekarang sok-sokan mau review. Sotoy abeeesss…. Makanya kebanyakan foto akan dicomot dari blog orang yaa dengan tetap mencantumkan sumbernya. Tujuan aku menulis review ini dikarenakan lagi curious dengan wajah aku yang mendadak gampang banget jerawatan. Padahal sebelumnya jewarat hanya muncul satu atau dua biji saja menjelang menstruasi.

 

photo_2018-04-26_13-52-14

Lihatlah wajah bare face yang masih belum terserang jerawat ini

Nah, asal muasal cerita jerawat ini mulai muncul adalah di akhir Desember 2017 lalu. Sebelum jerawat ini muncul, aku lagi rajin-rajinnya pakai masker The Body Shop yang Amazonia Acai. FYI ini masker nggak beli. Aku dapet sachetan banyaaaaakk banget. Yasudah aku pakai saja. Pemikirannya saat itu kan persiapan mau tunangan nih, jadi ya itung-itung merawat wajah lah. Dan ternyata masker ini tidak memiliki efek yang heboh banget. BE AJA DI MUKA GUE.

 

the-body-shop-amazonian-acai-energising-radiance-mask-review-5-of-5-1440x1029

Source: https://www.jessoshii.com/the-body-shop-amazonian-acai-mask-review/

Asli deh ini seperti nggak ada efek apapun di kulit aku. Ngilangin komedo enggak. Bikin kulit kenyal juga enggak. Ya emang sih yang versi Amazonia Acai ini kalah pamor sama sepupunya yaitu masker series yang Himalayan Charcoal atau yang British Rose itu. Tapi ini kan dapet gratis yee… Yaudah nggak boleh protes. Masker ini itu memang bentuknya tempting sekali, seperti selai stawberry. Rasanya pengen lari ke Indomart dan beli roti tawarnya sari roti, lalu ini masker ku oleskan ke atas roti hahaha.

Karena masker dapat gratisan sekitar belasan sachet, jadi ketika masker habis yasudah aku stop pemakaian. Pas banget itu menjelang sekitar H-7 pertunangan aku sama si Koko. Haduuuhh kebayang stress nya nggak? Awalnya curiga sih jerawat muncul karena masker aja, tapi lalu ada pemicu lain: YAITU STRESS MAU TUNANGAN DAN NGERJAIN TESIS! NAH LHO

Akhirnya H-2 sebelum tunangan, kan aku pulang ke hometown di Malang. Aku langsung ke salon wajah langganan kakak aku dan facial disana yaitu di Belle Crown. Suka banget facial disini karena mbak-mbaknya faham betul jenis kulit kita gimana. Waktu aku lagi nggak jerawatan, aku facial detox dengan masker gandum seharga 180K. Nah ketika lagi jerawatan kan aku mau maskeran sama gandum lagi, eh sama mbaknya gak dibolehin. Disuruh facial khusus jerawat yang 130K. Dan disini kalau mau facial bisa kok kalau bukan member. Plus ada gym dan kolam renangnya juga. Aku paling demen renang disini kalo lagi pulang kampung (eh oke enough OOTP nya). Hasil sehabis facial adalah……. JREEEENNGGG kulit aku kembali cantik berseri. Jerawat tinggal bekasnya aja. dan syukur Alhamdulillah bisa Tunangan dengan “cukup” cetar. Kalau cetar banget berasa heboh yak orang acaranya sederhana aja di rumah.

6 hari habis tunangan, aku langsung cabut ke Sumatra Selatan selama dua minggu lebih buat ambil data penelitian. Nah daerah penelitian aku ini dataran tinggi dan dingiiiiinn banget. Selama disana kulit aku nggak ada masalah. Setiap malam rajin aku kasih Kelly. Bekas jerawat pada memudar dan TIDAK ADA JERAWAT MUNCUL SATUPUN!

Sekembalinya ke Jakarta, ada teman yang lagi kuliah di Yonsei membawakan make up Korea pesanan aku. Eh, bukan make up ding! Lebih ke skincare gitu. Biasanya, aku tuh pakai tonernya Secret Key. Asli parah ini enak bener di muka aku. Secret Key ini ada 2 varian, yang biasa sama yang rose. Ternyata aku nggak cocok pakai yang rose. Jadi bruntusan gitu lho wajah aku. (bruntusan ki boso indonesiane opo yo?). Toner ini dipakainya malem hari dan pagi hari sebelum pakai make up. Katanya siih… toner ini menyiapkan kulit kita supaya dapat menyerap skin care lain dengan lebih maksimal. Kalau dari pengalaman aku pakai Secret Key, komedo di hidung aku hilang. Bekas jerawat cepet banget minggatnya. Terus pori-pori wajah jadi mengecil.

product-41-147746247713671

Source: secretkeyen.com

Biasanya aku beli toner di ini temen aku… ya kita sebut saja “Buaji” karena percayalah dia memang sudah haji, yang merupakan broker make up koreyah yang sangat terkenal se-aentaro UI Salemba Jakarta Pusat. Dia jual botol besar seperti gambar di atas itu 160 K. Sementara di olshop lain bisa 200 lebih. Namun sayang sungguh sayang, suatu hari dia kesandung masalah cukai atau apalah itu. barang-barangnya banyak yang ketahan di airport. Dan lagi Buaji bilang Secret Key di Koreyah susah dicari offline nya.

Lalu kebetulan teman aku si Bae Suzy KW kesekian yang lagi kuliah di Yonsei University mau balik ke Jakarta.

 

west

APA NIH BAWA-BAWA NAMA GUE???

 

Ulala… segeralah daku nitip Secret Key ini. Namun disayangkan, memang benar di toko-toko sono, Secret Key sudah susah dicari, dan hanya bisa dibeli online dengan harga sekitar 30.000 WON lebih. Atau malah 45.000 Won ya? Lupa eike. Hingga teman aku tanya, “Lo seriusan nitip ini?”

HAAAAHHH??!!! KALO HARGA SEGITU MAH OGAAAHH.

Pada akhirnya si Bae Suzy KW ini merekomendasikan aku Klairs. Dia bilang, di Koreyah Klairs lagi diskon banget, dan Bae Suzy KW bersama teman-temannya pada pake ini dan cocok. Tergodalah diriku ini. Cuuusss langsung ku beli. Lupa harga Klairs berapa tapi nggak sampe 200K sih (bisa di cek kalau dibeli online rata-rata 280-290K). Dan episode baru dimulai….

 

k12_spfacialtoner_2__17697-1497260912-500-750

Source: http://beautepratique.co/klairs-supple-preparation-facial-toner/

Ternyata eike nggak cocok blass sama Klairs ini. Untuk tekstur, aku rasa dia memang sedikit lebih kental dari toner Secret Key. Dan Secret Key juga lebih cepat menyerapnya dibanding Klairs. Sekitar sebulan setelah pakai Klairs, muncullah jerawat-jerawat baru. Awalya kecil-kecil.. kayak komedo di dagu. Lah kok lama-lama malah jadi jerawat. PANIK! PANIK! PANIIIIIKK!!!

giphy1

Oke, memang sih muncul ilang-muncul ilang, lha tapi kalo keseringan dan tidak sesuai ritme yang di awal kan annoying juga yaa.

Oiya, selain nitip Klairs, aku juga nitip sheet mask ke temen aku. yaitu I’m SORRY FOR MY SKIN. Aku emang suka banget nyobain macam-macam sheet mask mulai dari punya Nature Republic, Innisfree, dan sheet mask lainnya di drugstore. Tapi aku nitip sheet mask ini karena covernya lutju aja waktu liat stories update si Bae Suzy KW. Ya Lord maafkan hambamu yang suka impulsif dan lapar mata ini

 

img_3738_1_1024x1024

Source: https://www.cupidrop.com/products/im-sorry-for-my-skin-black-mud-mask-tightening

Aku pesan 3 sheet mask Salah satunya black mud yang di atas ini. Pantes yaa ini masker mehong. sekitar 35K satu bijinya. Soalnya dia beneran ada lumpur-lumpurnya gitu. Seperti biasa sheet mask  ini ditemplokin aja ke wajah selama 30-45 menit

 

photo_2018-04-26_14-36-32

Penampakan saat lagi pakai sheet mask yang black mud

Nah, lalu saudara-saudara… tebak apa yang terjadi? Setelah pakai masker ini mendadak ADA SATU JERAWAT NONGOL GEDE BANGEEEETT DI PIPI KIRI. DOSA APA LAGI GUUUEEE???

1514429497-saat-kamu-ngegep-pacar-kamu-nonton-jav

Masih bandel (dan terlanjur pesan sheet mask mahal), beberapa hari kemudian aku pakai sheet mask satu lagi. Nggak tau jenisnya apa tetapi bungkusnya seperti ini.

 

item_xl_29994603_89736419

Source: Souq.com

ALHAMDULILLAH….. ketika pakai ini, jerawat yang segede kacang agak kempes dan sedikit mengering. Tidak separah yang black mud kemarin. Sebenarnya ini masih ada satu sheet mask lagi tapi aku simpan. Soalnya ini paling gemaz dan berasa sheet mask ini pengen aku peras dan aku minum airnya HAHAHAHAHA. Habisnya dia dari bir lho (Becanda euy)

 

img_3725_1024x1024

Source: Cipidrop

 

 

 

Oke, episode selanjutnya aku memutuskan STOP pakai Klairs. Karena aku pikir-pikir: YAIYALAH BAE SUZY KW COCOK PAKAI INI. LHA DIA DI KOREYAH SONO IDUPNYA. Lah gue? Jakarta tjooooyyy. Polusi dimana-mana. Panas nggak kira-kira. Habis keringetan di Busway lalu kena AC di kampus atau Mal. Sungguh tidak bisa di compare kondisi kulit di Jakarta dengan Koreyah. Bhay!

Udahlah nggak usah pakai toner apapun dulu. tapi jerawat ini makin-makin dah walau kecil-kecil. Sempat pengen beli toner tea tree nya The Body Shop, tapi kok nggak diskon-diskon. Oh iya, untuk cuci muka aku emang suka ganti-ganti. Biasanya aku selalu pakai Tea Tree Facial Wash nya The Body Shop. Lalu sempat berhenti dan pakai Clean and Clear biasa. Nggak ada masalah. Nah ketika lagi di FX Mal, itu facial wash tea tree diskon 20% jeeeuungg. WHAT DO U THINK! YA GUE BELI LAH

giphy

Jadi agak curiga apakah facial wash tea tree ini penyebab jerawat tidak menghilang? Masih misteri. Tapi aku istiqomah aja aku pake itu facial wash. Lalu entah gimana, aku tuh teringat dengan produk Sariayu. Mulai aku browsing dan WOW. Ternyata banyak yang review masker jerawat sariayu dan banyak yang cocok. Baiklah! Muak dengan produk luar, aku mau coba produk lokal dulu aja. Sebenarnya ada gerai Martha Tilaar di GI (Grand Indonesia). Tetapi waktu itu aku lagi stress berat sama tesis aku dan berasa nggak ada tenaga buat ke GI. Alhasil aku pesan di Shopee dan dikirim ke kostan. Eh, baru aja transfer di Shopee, siangnya teman aku ngajakin ke GI dan mau traktir makan siang di Pancious. Hoalaahh… Tau gitu tak tuku dhewe di tore Martha Tilaar. Tapi yoweslah yang penting bisa makan pasta gratis.

Oh iya ku pesan 2 item yaitu ini

 

782472_sariayu_krem_masker_jerawat

Source: Gogobli

 

5767f6861f872327978389

Source: marthatilaar

 

 

 

Bhaiyk…. episode selanjutnya adalah: Paket Sariayu belum datang, aku sudah keburu harus berangkat ke Bangkok buat Seminar. Nah pas berangkat ke bangkok ini, sudah ada tuh dua biang jerawat di pipi sebelah kiri. Selama di Bangkok… E BUSSEETTT JERAWAT GUE BERANAK PINAAAAAKKKK!!. Bisa jadi karena ini efek kebanyakan makan seafood ya. Maklumilah, biasanya kalau ke luar negri bener-bener anak backpacker jeung. Makan paling banter ya Sevel. Nah kali ini karena seminar dibayarin dosen, nginap di hotel berbintang 4 pula. Setiap sarapan dan makan siang banyak banget masakan seafood yang disediakan. HAJAR GAK KIRA-KIRA. Belum lagi saat ke Chatuchak ada berapa kali tuh jajan Sotong di pinggir jalan.

Asumsi kedua, jerawat meradang saat di Bangkok bisa jadi karena stress… gara-gara saat panel presentasi aku dengan bahasa Inggris yang brebetbrebet ini disaksikan LIVE oleh YANG-MAHA-PROFESOR-GUE .______.

Ketika di Bangkok tergoda bangetlah beli berbagai macam skin care waktu ke Boots di Terminal 21. Tapi eike tahan diri demi produk Sariayu yang sudah sampai kostan. (Dan juga menghemat budget jajan aja sih).

Lihat nih penampakan jerawat oleh-oleh dari Bangkok TT____TT

 

photo_2018-04-26_18-51-25

Jerawat Bangkok di Pipi Kiri

 

photo_2018-04-26_18-51-46

Jerawat Bangkok di dahi

 

 

 

AKHIRNYA! kita sampai pada episode dimana aku bisa mencoba masker sejuta umat yang harganya murah binggo ini. Jadi aku beli dua produk yaitu masker jerawat Sariayu an Acne Lotion nya.

Maskernya kata aku agak ribet pakainya. Mungkin terbiasa menggunakan sheet mask ya. Karena ini masker harus aku tuang di mangkok kecil, dan aku usap ke wajah dengan kuas gitu. Soalnya saat percobaan pertama aku usap sama tangan dan hasilnya nggak karu-karuan. Jadi supaya lebih rapih dan nggak netes-netes di lantai, yaudah aku pakai kuas saja. Lalu lebih baik kalau setelah 15 menit dibasuh dengan air panas. Haduh, sebagai anak kost masak air dulu untuk basuh muka cukup PR sih

Penggunaan masker sesuai petunjuk. Setelah 15 menit dibasuh air hangat. NAH! Kerasa dah setelah 2 x pakai kalau masker ini membuat jerawat aku kempes dan kering. IYA, JERAWAT OLEH-OLEH BANGKOK ITUUUUHHH. Lalu aku lanjutkan menggunakan Sariayu Acne Lotion. Oke, ternyata yang acne lotion tidak seberapa reccomended. Karena esok paginya saat muka aku dibedakin, itu keliatan banget kulit-kulit mengelupas di area jerawat. Iya sih mungkin harus sabar. tapi aku merasa annoying aja. Sementara aku STOP acne lotion, tapi penggunaan masker tetap dilanjutkan. Kata orang-orang di blog, masker sariayu ini bikin kulit kerig banget. Ya maap karena kulit aku cenderung berminyak mungkin yaa, jadi baik-baik saja tuh hehehe.

Oke, sekarang jerawat-jerawat Bangkok itu udah pada lenyap, tapi sisa bekasnya doang. Nah ada 1 jerawat yang bekasnya item jelas banget. Huhuhuhuhu…. Aku telatenin pakai Kelly deh. Oh iya, untuk sabun wajah juga aku ganti lagi nih. kebetulan aku lagi pulang ke Malang, dan aku pakai facial wash produk Belle Crown itu. Pakai punya kakak aku siih. Tapi nanti sebelum balik ke Jakarta aku mau beli 2 biji buat stok di Jakarta. Harganya mureh lhoo hanya 30K dan bisa buat sebulan. Sama kayak kalau aku pake clean and clear. Nah kemarin ada bakal jerawat kecil-kecil, aku pakaikan facial wash Belle Crown di duetkan dengan masker sariayu dan besoknya langsung DISSAPEAR! BOOM.

Selain itu aku juga masih itiqomah pakai Kelly setiap malam. Soalnya beberapa malam kemarin saat masih pakai Klairs, aku malas pakai Kelly. Oh iya buat yang masih bingung kenapa sih dari tadi aku bilangnya Kelly melulu.

 

kelly-pearl-cream-500x500

Source: Indiamart

 

Kelly ini memang kosmetik zaman baheula. Emak aku waktu SMA itu jerawatan, lalu hilang ketika pakai Kelly. Bayangkan, EMAK GUE SMA ITU TAHUN BERAPA. JADOEL ABIS.

Aku pertama kali pakai Kelly saat kuliah. Sebelumnya kulit aku SELALU jerawatan dan nggak bisa cerah. Lalu aku pakai Kelly setiap mau tidur. Memang sih dia bikin kulit aku semakiiiinn seperti kilang minyak saat tidur. Tapi bodo amat dah saat tidur kan nggak ada yang memperhatikan juga. Lucunya, perubahan kulit aku ini nggak aku sadari sendiri, tetapi teman-teman aku. Mereka bilang aku putihan (lebih putih). Bahka ada yang sirik bilang aku pasti perawatan ke klinik. Duh yaa seumur-umur alhamdulillah belum pernah kulitku ini disentuh sama “Dokter Kecantikan”, lalu pakai bermacam-macam krim yang membuat kulit tipis dan mengelupas itu.

Saat kuliah S1 dulu, di akhir tahun pernah juga jerawat aku meradang gara-gara pakai bedak Wardah. Mungkin hormon juga karena kelamaan jomblo ya (Weeeeiittss). Akhirnya mulus kembali dalam 3 bulan setelah rutin pakai Kelly (Iyess, efeknya nggak bisa cepet. Malah aku ngeri kalo efek ke kulit cepet banget). Lalu jerawat meradang selanjutnya saat tugas mengajar di pedalaman. Ya gimana ya walaupun nyetok The Body Shop juga, kalau aku mandinya sama air rawa ya pasti jerawatan lah. Balik dari pedalaman, rutin pakai Kelly lagi daaaaaann….

tenor

Oh iya Kelly ini memang harganya murah. Tapi amat sangat aman. Ada BPOM nya. Dan iya ini memang kosmetik jadul. Dia nggak bikin kulit jadi putih kinclong serem gitu, enggak ya. Tapi dia membuat kulit kita cerah. Dan aku pernah berhenti pakai Kelly 1 bulan, hasilnya muka aku baik-baik aja (karena saat itu lagi nggak coba-coba skin care juga siih).

Intinya, hingga saat ini aku istiqomah pakai sabun muka dari Belle Crown, dan pakai Kelly di malam hari, plus pakai masker jerawatnya Sariayu seminggu 3x. Selain itu, mumpung aku lagi pulang dan nggak di kostan, aku setiap pagi rajin bikin jus. Jus dari buah-buah yang ada di pasar aja. Kayak pepaya, tomat, melon, wortel, nanas, kadang bayam juga aku masukin. Nggak usah sok “organik” ala-ala itu.  Untuk membantu mempercepat regenerasi kulit. Ingat ya guys, kulit itu cepat rusak dan sembuhnya juga pasti lama.

Baik sekian episode dari saya. Sampai sekarang saya masih bingung, apa pemicu munculnya jerawat terus menerus akhir-akhir ini. Apakah:

a. Masker Amazonia Acai

b. Facial Wash The Body Shop

c. Seafood di Bangkok

d. Tekanan Batin menyelesaikan tesis

e. KToner KLairs

Ah, sudahlah biarkan ini menjadi misteri.

tenor1

 

 

 

Iklan

Ayat-Ayat Cinta 2: Semua Perempuan Mengagumi Fahri. Warganet Geram. Memang, Apa Salah Fahri?

Ini Fahri di Ayat-Ayat Cinta yak bukan Fahrim Hamzah (Lah!)

Saya kasihan sama Fahri. Seminggu terakhir ini postingan dia menuai hujatan yang tidak sedikit. Baik itu di grup WA, media sosial, blog, hingga portal berita online.

Kegeraman ini disinyalir mereka gatel dan gemazz dengan sosok Fahri yang “terlalu sempurna”. Padahal yak, kesempurnaan itu hanyalah milik Dosen Pembimbing. Catat itu! Kalau tidak, revisi semua kerangka konsep kamu!

Ada yang bilang kalau sosok Fahri ini dipaksakan dan seolah-olah bagaikan malaikat. Ada yang bilang juga sosok Fahri gak realistis. Ada yang bilang, gak realistis gapapa, kan ini CUMA film. Iyak. CUMA. Ada banget lho yang komen gitu. Hastagaaa pengen gue tabok buku literatur dan sejarah dimana film itu bisa punya power yang besar dan jadi alat propaganda. Tapi sudahlah. Apalah gue yang nggak mampu test IELTS sebesar hampir 3 juta biar bisa S2 di Glasgow atau Edinburgh seperti Hulya dan teman-teman LPDP gue lainnya. (oke yak mup on yak). Ada juga yang membandingkan sosok Fahri dengan Rangga. Heboh lak pokoknya.

Para laki-laki gemaz. Mereka kesaalll bukan kepalang melihat Chelse Islan minta dikawini sama Fahri. Lebih kesal dibandingkan saat Si Tampan Bastian Steel digosipkan pacaran sama Chelsea.

022860200_1497390740-bastian_steel_dan_chelsea_islan

SAVAGE BRUUUUHHH

Sementara saya kesaaaalll sama Tatjana yang meluk-meluk Gong Yoo di iklan ASUS. APAAN COBA!!!! (lah,lah..lah….)

 

maxresdefault

Gong Yoo be lyke: Dengerin single terbaru Mulan Jameela dulu deh dek. Asyik lho

 

 

dafuq-did-i-just-see

Tapi diantara semua kemarahan Warganet dengan Fahri, saya lebih marah dengan sosok perempuan disini.

Saya sebel, kesel, dongkol, dengan cara stutradara memberikan karakter pada anak-anak gadis di film ini. Saya nggak baa novelnya sih, jadi saya nggak tahu karakter di novel seperti apa. But once again, ini kita ngomongin film yak. Jangan terus sangkut pautkan film dengan novel. Kalo novel bagus dan film jelek, ya jelek aja. Macam Eragon itu. Tapi kalau novel bagus dan film bagus, maka dia akan jadi legend seperti LOTR dan GoT. (Sembah sujud sama eksekutornya)

Okeyak lanjut keburu mau packing ke Jogja nih gue mau liburan sama Pacar setelah 3 bulan ngurusin Tesis yang ajaib.

Sebagai perempuan, jujur saya ikutan malu ya nonton film ini. Penulis naskah dan sutradara terlihat ga konsisten dengan peran yang ada seperti

 

  1. Hulya. Hey Hulya! Kamu ini sudah susah-susah stalking masuk kelas Fahri, lalu memberikan statement tentang perempuan-perempuan cerdas di Islam, lalu bilang mau lanjut buat S2 di Edinburgh. Eh tapi apa? Mengapa kamu langsung lemah ketika Fahri melamarmu di bangku taman ala 500 Days of Summer itu, hah?

    813dea3f08d3ea60e8eb969a1d949482-days-of-summer-cinematography 

     

     

    Apa kamu tau Hulya, banyak sekali anak-anak LPDP itu yang mau daftar ke Edinburgh tapi belum beruntung buat dapet LoA?.Lah kamu yang enak banget mau kuliah dimana tinggal nunjuk, malah melupakan mimpimu. Hulya, menikah bisa menunggu. Tapi pendidikan tidak! (Kata quotes temen di insta stories). Ketika Bapakmu datang  untuk meminta Fahri melamarmu, kamu bilang “Kenapa harus cepat-cepat? Bagaimana dengan postgrad Hulya”. Dan semua itu runtuh ketika Fahri berlutut di hadapanmu. Kamu terharu. Matamu berkaca-kaca. Dan kamu mengiyakan lamarannya. Adegan yang mengukuhkan kalau perempuan itu jangan capek-capek sekolah, toh nanti jadi bini orang juga. Mbak-mbak di bioskop baris depan mewek. Saya dan teman cewek saya saling pandang-pandangan kezeeell….

  2. Keira!  Saya nggak tau apakah passion Keira emang sebegitunya sama main Biola, hingga dia mau menikahi Fahri ketika mengetahui Fahri-lah yang diam-diam mengirimkan guru les privat biola ke rumah Keira. Tapi, dimana pribadi kamu? Kemana sosok Keira yang keras kepala, tangguh, rebel abeess ala-ala scotland girl, dan almost be an alpha women…. ketika akhirnya dia menawarkan tubuhnya buat menikahi SIAPAPUN yang bayarin guru les biola dia ketika dia diwawancAra di acara talent British gitu. Mbok ya mikiiiiirr kalo mau membalas budi itu. Ini saya jadi perempuan malu banget lho. Seolah-olah perempuan ini nggak sanggup memberikan hal lainnya untuk apa-apa untuk balas budi, lalu jadinya “Nikahi aku saja Fahri aku mohooooonnnn” dengan menawarkan tubuh dan keperawanan. MALU AKU MALUUUU NONTONNYA AAAAARRGGGHHH!!!!! Serendah itukah perempuan di mata Industri film? Betewe, Aduh Dek Keiraaa… untung itu Fahri yang bayarin elo les biola. Kalo Bastian Steel gimana? Mau lo ngawinin dia? beneran lo? Yakin lo? Heeemmm….
bastian-steel-cjr-jaga-komunikasi-455

I CALL YOUR DADDY NOW!

3. Aisha

Ini yang bikin aing paling frustrasi. INI GORE MOVIE APA GIMANA SIH? Kok saya berasa nonton American Horror Story deh. Adegan dimana Aisha merusak Vagina dia supaya gak di perkosa it was like…Oke gue paham. Ini ingin menunjukkan kuasa dan otoritas perempuan atas tubuhnya sendiri. Tapi… lah bagaimana dengan ‘dick’ para pemerkosa? Ya masa kami para wanita harus masukin besi ke lubang kemaluan kami supaya tidak diperkosa. Lalu ini juga yang menjadi alasan Aisha tidak bisa kembali ke Fahri. Karena ia bukan Aisha yang dulu. Karena ia sudah “rusak”. Ujung-ujungnya film ini kembali meletakkan kehormatan perempuan hanya pada selangkangan. AKU TERKEDJOOEETTT!

tumblr_o7oxuiz0l81vne1u2o5_540

Hanya Brenda yang aktingnya paling natural disini. Mungkin juga karena hanya dia yang PALING WARAS dan nggak ngintilin Fahri kemana-mana dan kasih makanan seperti Hulya dan mahasiswa Fahri lainnya. Ah, bahkan Rangga juga nggak sampe diikutin cewek-cewek kemana-mana ketika dia di bangku SMA.

rangga-moela_20170108_090415

BUKAN RANGGA YANG INI. ETDAAAAAHHH!!!!

Nah, lalu salah Fajri dimana? Salah Fahri adalah… posisi dia di film ini seolah-olah menjadi pembenaran ketidakwarasan hal-hal yang dilakukan oleh ketiga perempuan di atas. Semuanya dibuat wajar. Wajar ketika Hulya menerima Fahri dan gagal S2, karena itu FAHRI yang melamar dia. Wajar ketika Keira mendadak lemah dan meminta Fahri menikahinya. Dan wajar apabila Aisha memilih berkorban banyak dan menderita, demi melihat Fahri bahagia. Semua tindak tanduk Fahri dibenarkan. Dan semua adegan menunjukkan bahwa “tidak ada yang bisa menolak Fahri”

Pada akhirnya, film ini juga dibungkus dengan sangat berantakan. Proses Face off malah jadi ending. Padahal face off sendiri adalah konflik besar tersendiri menurut saya. Mari kita lihat film “Face Off” John Travolta dan Nicholas Cage. Saat nonton film itu saya sudah erasa dibodohi. Ya masa segampang itu tukeran muka. Tapi film ini konsisten. Konfliknya hanya satu. Maslah face off yang dibawa sampai akhir film. Lah disini, dijadiin ending bok. Seolah-olah itu jadi solusi.

Dan pada akhirnya pun, Fahri kembali menjalani hidup sempurna. Akhirnya punya anak. Dan istrinya….. wajah istri kedua, tapi hati tetap istri pertama. Apakah, ini impian semua laki-laki di dunia ini? Apakah kemudian perlakuan Fahri jadi pembenaran buat poligami? Hanya karena bosen sama muka istri, lalu nikahin istri kedua. Tapi kasih sayang au tetep dapet dari istri pertama. LHA KOK NYIMUT!

Kaget. Sungguh kaget film ini dieksekusi seperti ini. Ketika saya cerita plot film ini di kampus, ada yang kesel sampai gebrak meja. Ada yang penasaran sampai cabut ke XXI dan nonton sendirian.

Setidaknya meskipun film ini tidak mendidik, dengan review-review yang ada penonton bisa belajar menilai film scara kritis, Nggak he em he em aja lalu ditelan mentah-mentah. Semoga film ini bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Dan layaknya warganet yang lain, saya juga jadi geram sama Fahri.

Ya gitu lah cewek. Walau bilangnya minta kesetaraan gender tapi di akhir selalu bilang “laki-laki selalu salah, dan perempuan selalu benar”. belom lagi kalau ditambah “AKU TUH LAGI PMS”

But, seriosly… I’m on my PMS rite now. Seriously!

3-2

Segini aja review saya. Mbak teppy yang hits serta tirto.id serta penggemar film lainnya sudah memberikan review yang lebih ciamik.

Postmodern Beauty: Pandora Booty Goal yang Menyedihkan

Sejak kecil saya sudah gemuk. Gendut. Gembrot. Bongsor. Whatever you call it lah.

Saya ingat di kelas 3 SD, badan saya paling tinggi menjulang. Tulang saya besar. Turunan dari Ayah saya. Menginjak dewasa dan masa puber, tidak ada tanda-tanda berat badan saya turun. Justru saya semakin membesar. Malas gerak, tetapi nafsu makan bertambah.

Sedihnya adalah, tidak ada orang di sekitar saya yang memberikan saran ataupun info mengenai apa yang harus saya lakukan untuk mencegah tubuh saya yang semakin membengkak. Yang mereka lakukan adalah terus menerus mengatakan saya gendut dan suka makan. Faktanya, saya memang dari dulu suka makan. Sampai sekarang sih. Saya ingat ketika SMP dulu, setiap merampungkan makan siang, saya akan lanjut makan mie instan atau roti tawar yang dilapisi mentega dan gula.

Hingga saya kuliah hal ini terus berlanjut. Saya tetap kelebihan berat badan,dan sekali lagi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, selain menelan bulat-bulat bullyan orang-orang terhadap badan saya ini. Saya ingat, dulu saya benci sekali melihat pantulan wajah saya yang sedang telanjang bulat di cermin kamar saya. Saya merasa hina. Saya merasa itu bukan saya. Saya tidak segendut itu! Hal ini berlangsung ketika saya memilih baju yang akan saya kenakan. Saya bersikeras baju yang sebenarnya “ngapret” itu cukup untuk saya, dan refleksi di cermin itu bukan saya!

Short story, saya berhasil menurunkan berat badan saya. (Saya akan menulis prosesnya seperti apa, dan bagaimana saya jadi “gym addict” hingga saat ini, serta berbagai macam jenis olahraga apa saja yang sudah saya lakukan. Duh… semoga istiqomah yaa dan tidak dihantui oleh penulisan tesis dan jurnal). Nah, cerita menarik bermula disini. Setelah berat badan saya turun hingga 8 kilo, otomatis saya tidak jijik lagi dong melihat tubuh saya di depan kaca (Bahkan bisa berlama-lama ngaca dan memperhatikan perut serta paha yang mengecil. Sungguh buang-buang waktu yang tidak berfaedah sekali saudara-saudara). Tetapi ternyata setelah saya tidak overweight lagi pun (Sebenernya kalau menurut BMI sih masih overweight 2 kilo), saya masih mendapatkan celaan dan cibiran mengenai bentuk tubuh saya.

“Pantatnya tepos!”

“Nggak punya pantat!”

“Dadanya rata”

“Kecil amat itu Payudara. Kasian cowok lo”

Padahal…. Sebelum berat badan turun, saya dihina habis-habisan mengenai size pantat saya yang besar. Sekarang setelah mengecil, again….. badan saya mendapatkan cibiran karena pantatnya tepos. Tidak “booty goal” ala Kardashian.

Sekarang saya tanya…. Memangnya berat badan ideal itu seperti apa? Siapa yang membuat standar bentuk tubuh ideal? Kenapa sekarang yang penting adalah pantat yang besar? Sejak kapan? Apakah sejak Kardashian membesarkan pantatnya? Ataukah sejak Nicky Minaj bikin video yang goyang-boyangin bokong dia di hadapan kamera?

Hey! Sadar nggak sih, persepsi kita mengenai bagian tubuh wanita yang ideal itu semuanya dibentuk dan dikonsepkan. Dan jenis tubuh wanita ideal itu berubah-ubah setiap generasinya. Silahkan tonton video yang saya dapatkan dari BuzzFeed dan diakses pada 15 September ini.

Pada masa Renaissance, tubuh ideal adalah yang gemuk dan berisi. Berlemak. Pinggul yang besar, perut yang bulat, serta dada yang besar. Karena pada saat itu hanya orang-orang kaya saja yang bisa menjadi gemuk dan makan enak.

Yang paling menarik perhatian saya dalah era tahun 1920 ketika masa PD I. Pada jaman itu, tubuh ideal perempuan adalah yang boyish atau tomboy. Pakaian dalam yang laku adalah pakaian dalam yang membuat payudara mereka semakin rata. Karena mereka harus bekerja, bahkan membantu tentara dalam Perang Dunia.

original-24021-1422387296-8

Di tahun 1930 hingga 1950, semua orang mendewikan Marilyn Monroe. Dada yang besar serta pinggul yang ramping. Yaaa…. Tipe-tipe gitar spanyol lah. Perempuan dengan tipe tubuh seperti itulah yang disebut seksi dan dianggap memiliki tubuh ideal.

qlhbsbr

Pada tahun 1960, semua berubah. Muncullah model bernama Twiggy yang badannya bak telenan. Sangat tinggi dan sangat kurus.

twiggy

Twiggy merutuhkan konsep tubuh ideal yang berdada besar ala Marilyn. Twiggy dengan percaya diri menunjukkan tubuh kurus cekingnya itu. Jadilah para wanita di masa itu beramai-ramai melakukan bulimia. Semakin kurus, semakin tidak makan, semakin cantiklah mereka di hadapan khalayak. Walaupun pada akhirnya banyak yang meninggal. Tercatat bahwa kasus Bulimia meningkat drastis pada tahun 1970-1980 (https://www.psychologytoday.com/blog/evolutionary-psychiatry/201112/history-eating-disorders

Dan kini tiba di masa Postmodern Beauty. Perempuan seksi di masa ini harus memiliki dada yang besar, pantat yang besar, tetapi perut yang rata. Jangan lupa harus langsing dan sehat juga. Gaya hidup makan sangatlah penting pada perempuan jaman ini. B*ngke! Mau hidup kok susah amat! Mau cantik kok ribet.

Jadi dapat dibilang, merupakan kesalahan saya hidup di era Postmodern Beauty! Pantat saya yang megecil hasil Indoor Cycling selama 4x dalam seminggu di gym percuma sudah. Orang tetap membully dan mencibir saya. Bayar gym 500rb lebih sebulan juga percuma sudah. Karena saya masih dituntut untuk memiliki “booty goal” serta dada yang besar. Eits jangan lupa, perutnya tetap rata yaa. Groooaaarr.

Lalu yang menjadi pertanyaan besar disini adalah, emang kenapa sih kok tipe tubuh ideal wanita  setiap jaman selalu berubah-ubah. Mengapa kira-kira?

Kalau dari sudut pandang saya yang sudah di doktrin oleh kampus tempat saya S2 yang sangat kiri selama satu tahun terakhir ini, tentu saja itu semua untuk MEMBUKA PASAR BARU. Berubahnya konsep ideal tubuh wanita, memiliki pengaruh besar kepada penjualan pakaian dalam wanita, hingga produk fashion lainnya. Di jaman now, yang lagi booming ya membesarkan pantat.

“Ada banyak orang yang terpesona melihat Kim Kardashian atau Nicki Minaj atau beberapa wanita yang memiliki pantat lebih besar, dan mereka berusaha untuk itu,” kata Dr. Michael Edwards, presiden American Society for Aesthetic Plastic Surgery, yang mengumpulkan data mengenai oprasi plastik. Menurut laporan tahun 2015 dari American Society of Plastic Surgeons (ASPS), implan dan lift butt adalah jenis operasi plastik dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Trennya dimulai pada tahun 2014. Pada tahun 2015, rata-rata setiap 30 menit, terjadi 1 prosedur implant bokong. SAY WHAAAAAATTTT????!!!! Oh ya, dan biaya untuk oprasi bokong bersisar antara 8.500 – 10.000 US DOLLAAAAAARRRR!!! (Data di tahun 2015. Di tahun ini bisa meningkat lagi)

Belum lagi produk-produk pembesar pantat seperti di bawah ini yang saya dapatkan dari Amazon ketika mengetikkan kata “butt lift” di kolom pencarian.

butt2butt1

Lihatlah berapa banyak uang yang dapat mereka raup setelah membuat kita terlena dengan bentuk pantat ideal. Sungguh mengerikan. Sekali lagi seperti yang saya bilang, ini semua untuk membuka pasar baru. Kalau pantat besar tidak menjadi tren, mana mau orang membeli produk-produk seperti di atas. Di tahun 1990 pasti kita ditertawakan jika membeli produk seperti ini. Karena di tahun 90-an tubuh ideal itu ya seperti Kate Moss. Kurus kering dengan tato, rambut berantakan, seperti orang yang nyandu heroin.

Selain itu, saya lelah sekali setiap kali melihat Instagram akun fitness, para perempuan di Instagram sangat suka melakukan “butt workout” atau “glute workout”. WHAT IF I DON’T WANT TO? GO AWAY AND DON’T TAKE MY MONEY!!!! Ditambah lagi banyak sekali yang menjual program membesarkan pantat serta apalah-apalah itu. Oh iya, tidak lupa beredarnya foto-foto before and after yang memamerkan pantat mereka yang bulat sempurna seperi buah persik.

d0ab8620c331617998d29dd2c50866c1-home-workout-plans-at-home-workouts

faa187f96c8f8e62cbdeca4cd17fe0de

Dan kita terlalu sibuk menjudge bentuk tubuh orang lain dengan standar tubuh ideal yang sebenarnya dibentuk oleh para kaum pemilik modal itu, supaya kita berbondong-bondong membeli produk mereka. Kita seolah-olah berada dalam Pandora bokong besar, sementara para pemilik modal tertawa senang dan kipas-kipas duit.

Jadi, berbanggalah yang belum panik ikut fitness untuk mendapatkan round butt. (Plus squats challenge squats challenge itu) Karena anda tidak menjadi korban kapitalis!

Damn you Kim. I blame you for this! You didn’t even do any squats at all! (I’m on Taylor Squad)

taylor-swift-spotify-leak-song

Lalu apakah saya akan mencoba membesarkan pantat saya? Hmm… Saya akan tetap olahraga seperti biasa. Tentunya dalam satu minggu ada olahraga untuk abs, leg, butt, and arm. Plus cardio dan yoga. Jadi nanti kalau pantat jadi booty goal yaudah, kalau enggak juga yaudah sih. Sekarang lebih ingin anggap angin lalu saja kritikan orang terhadap tubuh saya.

Dan berdamai dengan tubuh sendiri itu tidak mudah. Saya terbiasa dibilang gendut dan jelek. Saya gendut dan jelek karena orang-orang berkata seperti itu kepada saya. Bukan karena PBB dan UNICEF yang secara langsung mengklaim kalau saya gendut dan jelek. Tidak. Hal tidak menyenangkan yang terjadi belasan tahun di hidup saya tentunya memberi saya efek negatif. Saya jadi insecure dengan tubuh saya sendiri.

Hhhhh…. Nggak mudah cerita disini. But, oke I’ll try.

Seumur hidup TIDAK ADA orang yang memuji saya cantik. TIDAK ADA.

Ketika berat badan saya turun banyak, saya bertemu saudara dan tetangga, komen mereka adalah “Nah gini cantik kalo langsing”. Ini sekaligus pembuktian bahwa sebelumnya saat saya gendut, ya saya jelek di mata mereka.

Jadi guys…. Mau cantik? Langsing makanya! Jangan lupa itu pantat digedein, perut diratain, dan dada dibesarin.

Dan hal ini jadi berimbas kepada pacar saya. (aduh malu). Pacar saya tipe orang yang tulus dan gak neko-neko. Dia sering komen jika kami sedang vidcall, atau saya kirim selfie ke dia (maklum LDR book), pacar saya suka memberikan komentar “Kok manis banget hari ini”, “Cantik ya kamu pagi ini”, “Makin hari manisnya makin nambah deh”. Dan bagaimana reaksi saya? Bukannya bahagia, saya malah bilang “BOHONG KAMU! GAK USAH GOMBAL! AKU TUH GAK CANTIK. AKU TUH GAK MANIS!” Dan Pacar saya jadi kebingungan karena dibilang bohong dan gombal. Tidak hanya itu, dia juga jadi sedih karena saya menganggap dia bohong memuji saya cantik. Padahal saya kirim selfie saya setelah cuci baju pakai tangan juga dia dengan tulus berkomentar kalau saya cantik. Ketidak percayaan diri yang saya dapat dari hujatan sosial belasan tahun, justru malah turut menyakiti hati pacar saya sendiri yang dengan tulus memuji saya.

Dan sampai saat ini, masalahnya belum kelar. Saya senang dia bilang saya cantik atau manis. Tapi ada sedikit perasaan sanksi di hati saya saat dia mengatakan hal itu. Ini beneran gak sih beneran gak sih? Walau saya suka kirim selfie dengan ekspresi wajah yang absurd, dia tetap bilang saya cantik. Tapi kalau saya lagi BT dan cemberut, ya dia jujur akan bilang saya jelek kalau lagi badmood begitu. Iya, harus berdamai sama tubuh sendiri dulu sepertinya.

Karena lagu Cherrybelle yang “Kamu cantik cantik dari hatimuuuu” itu sungguh bullsh*t guys. Akan selalu ada statement, “Bego sih.. Untung cantik dan langsing. Badannya bagus pula.”

Akuilah.

 

P.S: Sejak berat badan saya turun, saya belajar untuk tidak judge tubuh sesama perempuan. Karena kamu mau langsing atau gendut, tetep aja akan ada yang ngomongin gitu lho. Sudahlah, mari makan nasi padang saja pakai gulai otak dan sambal terong kuy!

 

I’m a Feminist, They Said

9c7331f681c03eb59c32aa15855c1ca6

“You are a feminist” said my friend to me while she was pointing her finger at me

“No f**king way” I replied.

“Gini lho…. Lo tuh outspoken banget. You know what you want and you will do anything with your own will”

“Ya iya sih. But I am getting tired when people keep labeling me as a feminist!”

Actually, I am not even sure wether I am a real feminist, or NOT!

Berbicara tentang kesetaraan gender itu melelahkan sekali. Walaupun ternyata saya tidak pernah melepaskan fakta bahwa saya selalu kembali ke “lingkaran setan”. Setiap saya membuat paper untuk tugas kuliah maupun penelitian, saya selalu kembali ke gender.

“Gender itu seksi” Kata teman saya.

Blah! Sexy your ass! Lo nggak bisa ngomong gender kalau lo hanya meraba-raba permukaannya saja dan tidak membaca cukup banyak jurnal serta buku tentang hal tersebut. Makanya saya sangat berhati-hati berbicara tentang gender. Karena ilmu saya masih cetek. Se-cetek bak mandi ponakan saya yang baru lahiran dua minggu lalu.

Kalau masalah feminis, banyak yang lebih feminis dari saya. Kalau masalah girl power, banyak anak-anak perempuan yang kehilangan orangtuanya di Timur tengah sana, serta single mothers lainnya yang lebih girl power dari saya.

Lagian saya sering dikira feminis karena saya tidak butuh laki-laki katanya.

HELLOOOOOOOOOOO………………….!!!!!!!!!!!! RYAN GOSLING, CHRIS HEMSWORTH, CHRIS EVANS, DAVE PATEL….. GUYS…. I NEED YOU!!!!

ryan-gosling-do-you-find-me-attractive-stupid-crazy-love

No! Bukan begitu. Saya merasa saya bukan feminis karena kepada sesama gender saja saya belum setara. Bagaimana bisa saya menuntut kesetaraan gender, jika saya masih tidak bisa memandang perempuan lain setara dengan saya?

Baru-baru ini saya menyadari sesuatu. Ketika para teman-teman wanita saya berkumpul bersama, kami cenderung berbicara mengenai kekurangan tubuh kami, atau kekurangan tubuh teman kami

“Pantat gue gede banget”

“Perut gue kayak belut!”

“Perut lo mah rata”

“Emang elo, dada elo yang rata!”

“Lo juga nggak punya pantat. Tepos!”

“nah, pantat elo kegedean. Kalo jalan ketinggalan”

Defak is wrong with this society.

Dan to be honest… (to my boyfriend, sorry dude if you are reading this rite know…. Yeah…. You know, no refund in our relationship. So deal with it!) I don’t have a big boobs! And that was not a big matter for me. I’m okay with that. Yang terpenting adalah suatu hari anak saya nggak kekurangan ASI (itupun KALAU saya punya anak)

Tetapi karena hal ini terus berulang, terus direproduksi, terus dibicarakan, entah mengapa saya merasa ini adalah masalah! My small boobs are my biggest problem right now!!!!!!!!

Dan ini membuat saya berpikir, apakah hal seperti ini juga teraplikasi kepada orang lain? Lalu saya merenung dan merenung… dan…. Oh syit! I did that too. A lot! Menilai tubuh wanita lain. Ketika tubuh adalah kebebasan bagi perempuan itu sendiri. Terserah dia lah mau dia apain itu badan. Mau di tattoo kek, mau dibuat kurus dengan lari 10K tiap hari kek, mau berotot dengan angkat besi kek, atu mau makan KFC dan McD setiap hari juga…. Ya itu tubuh elo. Selama elo melakukannya atas kesadaran elo sendiri dan keinginan elo sendiri. Bukan paksaan dari pihak lain. Bukan demi pacar. Bukan demi diterima di sebuah kelas sosial.

So, who am I to judge?

This such a huge reflection for me. Girls, your body is your freedom.

Jadi bagaimana saya bisa berkoar-koar masalah kesetaraan gender, kalau saya belum bisa menyetarakan para perempuan di sekitar saya?

Mulainya harus dari diri saya sendiri dulu. Kalau saya tidak menulis di blog, pasti besok saya lupa, reflekisnya hancur lebur, lalu saya kembali menilai kekurangan tubuh perempuan lain, dan masih memikirkan solusi apa yang paling tepat untuk menyelesaikan my “biggest problem right now”

The female body is something that’s so beautiful. I wish women would be proud of their bodies and not diss other women for being proud of theirs- Christina Aguilera

 

 

My Strongest Anthitesist

maxresdefaultPercakapan suatu malam

“You know what? Paket aku sama xxxxxxx di proses hari Jumat. JUMAT! Aku kirim itu dari Rabu lho. Dengan embel-embel kilat khusus seharga Rp. 40.000 itu”

Ujar saya kesal. Bagaimana tidak kesal? Mengirim paket  hanya dengan berat 1,5Kg saja menghabiskan biaya Rp40.000. Tidak pakai tanya mau kilat khusus atau tidak, eh langsung di patok harga kilat khusus. Mbak nya cenayang! Setelah saya kira Jumat akan sampai, ternyata Jumat barang baru dikirim dari Jakarta ke Yogyakarta. Orang dengan tempramen seperti saya tentunya sangat kesal sekali.

Seperti biasa, Leo justru memberikan respon yang sangat flat dari hasil uring-uringan saya. “Aku mau makan ini. Sabar yaa.”

“Duh kamu! Apa kek ikutan mengumpat ke tempat ekspedisi kek. Hih kesel. Kan itu paket buat kamu juga.”

“Mending energi yang digunakan untuk mengumpat  dipakai buat sayangin kamu aja.” Jawab Leo sekenanya.

“Hah, kamu bikin aku serba salah!” Saya kesel. Padahal muka sudah merah padam.

Leo selalu menjadi peredam emosi saya, sekesal apapun saya dengan sesuatu. Terkadang, saat saya sudah cerita menggebu-gebu dan penuh emosi melalui video call dengan jarak lebih dari 420 KM kepadanya, Leo hanya akan mengamati ekspresi wajah saya sambil tertawa kecil. Hasilnya, saya berhenti marah-marah.

Malu.

Sebagai seseorang (yang katanya) sangat superior, sedikit sekali individu yang dapat menjadi peredam, atau antitesis saya. Ada beberapa, tetapi tdak terlalu berhasil. Biasanya akan berakhir saya mengintimidasi balik mereka, atau berkoalisi dengan individu tersebut untuk kembali mengintimidasi orang lain.

Dan baru kali ini saya menemukan seseorang yang dapat menjadi antitesis terkuat untuk saya. Mungkin karena elemen saya adalah air dengan zodiac Pisces, dan elemen Leo (sudah jela apa zodiaknya) adalah api, jadi dia dapat mengontrol ombak, serta badai dari saya. Pun sebaliknya. (Dan iya, saya se-receh itu percaya sama ramalan bintang -_-)

Does relationship make me weak?

Hmm, i should write bout that next time. Should I?

Coffee Talk #3

azure_28c0050d903a6c9595848b9656cdf62c

Tahukah kalian, bahwa biji kopi yang sudah dipetik memiliki metode yang berbeda untuk menjadi segelas cangkir kopi yang kita nikmati di pagi hari sebelum menjalankan aktivitas? Kopi yang berasal dari kebun yang sama dapat memiliki rasa yang lain jika proses pasca panen yang dilakukan juga berbeda. Biji kopi yang teralu kering akan terasa berbeda dengan biji kopi yang masih basah. Biji kopi yang di sangrai dengan kayu bakar, tentunya berbeda jauh juga dengan biji kopi yang di roasting dengan mesin otomatis.

Mungkin manusia juga seperti itu. Hasil akhir pada manusia, semua tergantung kepada proses sebelumnya. Bisa saja dua manusia yang bertemu di waktu dan tempat yang tepat akan memiliki hubungan yang berbeda, dibandingkan jika mereka bertemu di waktu dan tempat yang salah. Tetapi toh benar atau salahnya waktu, baru akan kita sadari pada akhir juga. Setelah mengalami proses yang ada. Setelah meneguk rasa kopi itu sendiri.

***

“Ah, sial!” Rutuk Gadis ketika dia menginjak kubangan air di dekat lokasi yang ia tuju. Gadis meratapi sepatu boots dari bahan suede yang sudah basah kuyup terkena hujan. Dia tahu sepatu itu mahal. Yah, walaupun sepatu tersebut lungsuran dari Sani juga. Tapi kan tetap saja.

Gadis berlari kecil membelah hujan yang turun deras sambil menggenggam payung di tangan kanannya. Ketika sampai di Kedai Kopi yang ia tuju, Gadis menutup payung, membiarkan rintikan hujan membasahi ubun-ubunnya, sebelum akhirnya ia membuka pintu.

“Hey! Dit!” Seru Gadis. Kepalanya  muncul dari pintu kedai. Sementara kaki dan badannya masih kehujanan di luar ruangan. Satu-satunya barista Kedai Kopi yang sedang khusyuk menimbang biji kopi menoleh ke arah pintu.

“Jabang Bayi!” Barista tersebut terkejut melihat penampakan kepala Gadis. Belum lagi rambut Gadis yang basah menjuntai dan menutupi sebagian besar wajahnya.

“Sssssstttt!!!” Gadis meletakkan telunjuknya di bibir. “Mana dia? Udah dateng?”

Barista yang mengenakan name tag bertuliskan “Adit” menunjuk kepada satu-satunya pelanggan yang duduk agak jauh di piggir jendela dan memunggungi mereka.

“Dari sejam yang lalu. Kalian janjian?” Tanya Adit.

Gadis hanya mengangguk. Kini dia benar-benar masuk ke dalam kedai kopi. Gadis meletakkan payung di dekat counter dan melepas jaketnya yang basah. Adit menawarkan diri untuk mengeringkan jaket Gadis, dan Gadis mengijinkanya.

“Samperin tuh. Udah habis dua cangkir kopi dia” Adit berbisik sambil meraih jaket Gadis.

Gadis hanya mendesah berat. Hujan deras di sore hari nampaknya membuat orang malas keluar sehingga Kedai Kopi ini sangat sepi. Meskipun cuaca cukup dingin karena hujan, namun Adit tidak berupaya untuk menurunkan suhu AC ruangan. Adit menata kedai kopi dengan sangat minimalis. Hanya meja dan kursi dari kayu. Jedela-jendela yang besar. Beberapa pasang bantal duduk di kursi. Ditambah hiasan dinding yang seperlunya saja.Gadis sedikit menggigil. Perlahan-lahan dia berjalan mendekati satu-satunya pelanggan di kedai tersebut. Dia ingin membenahi rambutnya. Tapi ia tahu itu tidak membawa perubahan yang cukup mengesankan dalam penampilannya kali ini.

Gadis duduk di hadapan pria yang sedang berhadapan dengan laptop dan beberapa lembar kertas di samping kirinya. Di sebelah kanan meja terdapat satu cangkir kopi yang telah kosong, separuh cangkir Latte, dan dua potong roti bakar. Gadis mengambil salah satu potongan roti bakar tersebut dan memasukannya ke dalam mulut.

Pria itu akhirnya menyadari keberadaan Gadis di depannya.

“Beli sendri dong! Itu roti jatah makan siang aku” ujar pria tersebut.

Gadis hanya nyengir kuda. “Masih aja pelit masalah makanan”.

“Kamu lama banget. Masih kejebak sama si Medusa itu?” Tanya pra itu.

“Ya kamu tahu lah, Nang” Gadis menjawab pertanyaan Lanang.

Lanang kembali mengetikkan sesuatu.  Pandangannya tertuju pada layar laptop.

“Oke aku tahu nggak seharusnya ganggu kamu kalau lagi sibuk gini” Gadis mengangkat bahunya.

Lanang menghentikan ketikan di keyboards. Dia menengadah dan menatap mata Gadis. Entah bagaimana wanita di hadapannya selalu menarik perhatian Lanang dalam cara yang lain. Selama beberapa detik mereka saling diam bertatapan.

“Maaf ya kemarin” Lanang membuka perakapan.

Gadis mengangkat bahunya dan kembali mengunyah roti bakar.

“Jadi kamu pergi sendiri?” Lanang lanjut bertanya.

Gadis masih sibuk mengunyah.

“Kenapa sih kamu nggak bilang lebih awal? Aku bisa kabur dari acara ulang tahun bocah-bocah itu”.

“Ya sudahlah, Nang. Pada akhirnya aku baik-baik saja kok. Masalah gaun Medusa sudah selesai. Dia lagi di Bali selama empat hari ke depan, dan aku akan bebas melakukan apapun yang aku mau sampai dia kembali ke Jakarta dan menyiksaku perlahan-lahan.”

“Iya, tapi aku kepikiran kamu nyetir mobil sendirian ke Bandung.”

“Nang, I am fine!” Gadis menaikkan nada bicaranya.

“Kamu punya masalah tidak mau naik mobil kecuali kamu nyetir sendiri, atau aku yang nyetir mobil tersebut. Itu artinya kamu ada masalah, Dis. Kamu tidak baik-baik saja.” Lanang mencondongkan badannya ke arah Gadis.

“Whoa! Tahu apa kamu? Bukan Papa kamu yang meninggal dalam kecelakaan mobil!”

Trraaaaaannnggg!!!

Suara peralatan besi yang jatuh terdengar nyaring dari arah counter. Adit tidak sengaja (atau sengaja) menjatuhkan lusinan sendok yang baru saja ia cuci. Gadis dan Lanang menoleh ke arah counter. Adit hanya membalas tatapan dingin mereka dengan senyuman.

Sorry. Anggap aja gue nggak ada.” Adit membenamkan kepalanya ke balik counter untuk memungut sendok yang berjatuhan.

Lanang mengalihkan pandangannya dari Adit dan kembali menatap Gadis. Gadis tidak suka apabila Lanang melihatnya dengan cara seperti itu. Dia merasa perutnya selalu mendadak mulas ketika Lanang menatap matanya secara langsung.

“Rambut kamu kenapa sampai basah gitu sih? Kamu kesini naik ojek?”

“Busway” Jawab Gadis sambil menunduk dan membenahi poninya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan poni Gadis.

“Nggak pake payung?”

“Pake kok.”

Percakapanan kaku mereka terhenti ketika posel Lanang berdering. Gadis langsung menatap jendela di samping kanannya. Dia sudah tahu dari siapa telepon tersebut. Gadis berusaha berkonsentrasi kepada kaca jendela yang basah oleh tetesan hujan, daripada mendengarkan percakapan Lanang di telepon.

“Hey…” Lanang menjawab teleponnya. “Mmm… aku di….” Lanang melirik Gadis sekilas. “Aku lagi di kampus. Kenapa? Sekarang? Well… oke. Tapi Trista….. ini masih hujan deras. Mmm… satu jam lagi mungkin? Oh, oke… baiklah.”

“Dis, aku harus cabut.” Lanang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

“As usual” celetuk Gadis.

Lanang mendesah berat. “Dengar Dis, aku mohon kamu pertimbangkan tawaran Mas Gian. Coba kamu masukkan CV kamu lewat dia. Sampai kapan kamu mau kerja sama Medusa itu? Karir kamu nggak akan kemana-mana.”

Gadis mengusap wajahnya frustasi. “Nang, kamu tahu aku nggak bisa meninggalkan Jakarta.”

“Kamu bisa. Kamu punya pilihan!”

“Kata seseorang yang juga tidak memiliki pilihan” Ujar Gadis.

Lanang memincingkan matanya menatap Gadis. “Aku memang punya pilihan.”

“Oh ya? Apa? Berpacaran dengan Trista yang bahkan tidak pernah kamu suka? Kuliah di jurusan yang dipilihkan oleh Mama kamu? Menghadiri acara ulang tahun orang yang tidak kamu kenal?”

“Dis, cukup!” Lanang setengah berteriak. Dia berdiri dan menyampirkan tas ke pundaknya yang tegap. “Aku berusaha ajak kamu ketemu disini, nunggu kamu beram-jam disini, hanya karena aku khawatir dengan kondisi kamu, sekaligus aku mau minta maaf karena nggak bisa antar kamu ke Bandung kemarin. Tetapi nyatanya kamu sendiri yang terlambat selama satu jam.  Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan sarkasme dari kamu”

Gadis menopang dagunya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya mengambil potongan roti bakar terakhir. “Pergilah sana.” Kata Gadis sambil menggigit roti.

“Kamu nggak mau bareng sama aku?”

Gadis menggeleng menolak tawaran Lanang. “Aku masih mau ngopi. Biar aku pulang naik ojek saja.”

Lanang mendekati Gadis dan menyentuh kepala gadis. “Salam ke Mama ya. Jangan lupa kamu segera hubungi Mas Gian.”

Gadis mengangguk singkat. Lanang berpamitan kepada Adit dan menerjang badai di luar kedai kopi.

Dari jendela, Gadis mengamati Lanang yang berlari masuk ke dalam mobil sambil memeluk tasnya , seolah dengan cara seperti itu tas Lanang secara ajaib menjadi water proof.

“Vietnam drip?”

Gadis kaget melihat Adit yang tiba-tiba sudah duduk di depannya. Gadis hanya mengangguk.

Adit mendesah berat dan menyalakan sebatang rokok. Dia menyodorkan bungkus rokok miliknya kepada Gadis. Gadis ikut mengambil satu batang dan menyalakannya. Selama beberapa menit, hanya ada kepulan asap rokok dan suara gemuruh hujan yang saling berbicara. Adit telah mematikan AC dan membuka beberapa buah jendela. Smooking are di kafe tersebut hanya terdapat di teras luar yang tidak memiliki atap sama sekali.

“Elo tahan juga ya. Kalau gue jadi elo, mungkin gue udah nggak mau ketemu sama Lanang sejak lama.” Adit menghembuskan asap seara dramatis dari mulutnya.

Gadis memincingkan mata kepada barista di hadapannya dan menatapnya dengan kesal. “Heh, kok elo malah diem ngerokok disini? Kopi gue mana?”

Adit beranjak dengan malas dari kursi. Pada siang atau sore hari, kedai kopinya selalu sepi. Biasanya orang-orang mulai datang saat menjelang malam. Kecuali di akhir pekan yang selalu ramai sejak kedai dibuka.

“Is that hurt?” Adit bertanya sambil memandangi bangku-bangku kosong di kedainya.

“Apanya?” Gadis menengadah.

Adit mengangkat bahunya. “Mencintai seseorang yang tidak pernah berbalik mencintaimu.”

Gadis menyunggingkan ujung bibir kananya dan menghisap rokok daam-dalam. “Coffee, please!” Ujar Gadis penuh penekanan.

Adit tertawa kecil dan menuju counter sambil menggumamkan lagu yang diputar di kafe.

“Ilalang…. seruling… di bocah desa. Ia bertelanjang dada…. Ilalang…”

Vietnam drip. Aeropress. French press. V60 Dipper. Cold drip brewing.

Begitu banyaknya metode brewing, dan begitu berbedanya setiap rasa kopi yang dihasilkan dari metode tersebut.

Proses.

Hasil akhir yang baik adalah perjalanan yang percaya kepada proses. Karena proses adalah sebuah arah, bukan tujuan.

 

To be continue to Part 4

Coffee Talk #1 

Coffee Talk #2

 

Mendapatkan Beasiswa Idaman Berarti Mental Juga Harus Baja. Ayo! Kamu Pasti Bisa!!!

Siapa yang tidak mau sih diberi biaya pendidikan gratis? Hampir semua orang juga menginginkannnya. Dan hampir semua orang tidak ada yang menolak untuk mendapatkan beasiswa. Tapi ternyata mendapatkan beasiswa tidak semudah itu lho. Iya siih… Untuk mendapatkan sesuatu yang gratis memang usahanya harus maksimal yaa. Wajib baca artikel ini untuk mendapatkan gambaran apa saja yang harus kamu siapkan untuk mendapatkan beasiswa. Untuk Para Pejuang Beasiswa. Semangat Berjuang, Teman!

Selain hal-hal teknis seperti yang disebutkan oleh artikel di atas, ternyata masih banyak seabrek persiapan mental yang harus dipersiapkan untuk mencari beasiswa. Apa saja sih? Ini dia menurut pengalaman pribadi saya.

Tutup Telinga! Pokoknya Tutup Aja!

not-listening-dumb-and-dumber-o

Banyak orang yang akan berkomentar jika mereka tahu kamu sedang berusaha mendapatkan beasiswa. Salah satu komentar yang saat itu bikin saya sakit hati seperti ini, “Kamu mau ikut beasiswa X itu? Itu kan susah banget lolosnya? Hanya yang udah kerja jadi PNS atau yang IPK diatas 3.5 yang bisa ikut?”

Jiper nggak? Saya sih jiper banget. Tapi lalu saya bertanya ke teman saya yang berkomentar, “Emang kamu sudah coba?”. Dia jawab, “Belum. Kata orang-orang sih gitu”. Hehehe… Baiklah. Jadi ngapain saya ambil pusing? Hajar aja! Jangan biarkan orang lain menciutkan nyalimu. Kalau memang beasiswa itu terkenal, kan kita jadi bisa menantang diri kita sendiri untuk menaklukkan proses seleksi.

Sabar, Sabar, dan Sabar

tumblr_n3jtgnrmog1tnbth9o1_500

Menyiapkan dokumen beasiswa juga butuh mental baja. Saat itu beasiswa yang saya ikuti meminta Surat Keterangan Bebas Narkoba, Surat Keterangan Sehat, SKCK, dan seabrek persyaratan lainnya. Belum lagi surat rekomendasi dosen. Nah, kebayang kan saya saat itu lulus S1 sudah tiga tahun lalu, dan tiba-tiba harus kembali ke kampus, bertemu dosen yang sudah lupa dengan saya, dan minta surat rekomendasi. Benar-benar tidak mudah. Belum lagi persyaratan mengurus Surat Bebas Narkoba juga membutuhkan birokrasi yang agak ribet. Makanya di jalani saja. Ingat, sabaaaaaarrr 🙂

Nggak Usah Kebanyakan Tolah-Toleh

9_1454058914

Ketika saya sudah lolos administrasi, saya lanjut ke tahap seleksi kedua yaitu wawancara, essay on the spot, dan Leaderless Group Discussion (LGD). Pada tahap essay on the spot ini kita dihadapkan dengan beberapa topik, lalu kita diminta memilih salah satu topik yang akan kita tulis dengan konten apakah kita pro atau kontra dengan topik tersebut. Ada kasus nih, salah satu pendaftar beasiswa sudah mendapatkan 10 bocoran topik essay on the spot dari yang mendaftar sehari sebelumnya. Alhasil dia panik menghafalkan 10 tema itu. Saran saya sih, kita jangan kebanyakan lihat kanan kiri. Fokus saja dengan bidang ilmu kita apa, lalu tulis topik yang bisa dikaitkan dengan bidang ilmu kita. Saat itu karena saya anak Ilmu Komunikasi, ya saya pilih topik tentang media yang saya dukung dengan beberapa teori komunikasi. Lebih aman. Oh iya, membaca blog orang yang telah mendapat beasiswa sebelum seleksi juga terkadang bikin panik maksimal. Usul saya tetap tenang dan cari tahu jenis tes nya saja. Jangan lupa tetap belajar!

Setelah melewati tes yang panjang dan penantian pengumuman…. JENGJENG!!! Saya lolos juga!

untitled

Tentu ini berkat doa orangtua juga. Oh iya, kalau ingin mendaftar beasiswa, kita harus ngobrol dengan orangtua kita. Kita ceritakan kita mau kuliah dimana, atau di kota apa, atau di negara apa dengan jurusan apa. Itu akan lebih baik supaya orangtua kita ridho dengan perjuangan kita.

And The Journey Has Just Begun

Kamu pikir setelah mendapatkan beasiswa dan LoA dari kampus idaman, hidupmu akan baik-baik saja? Muahahaha! Kamu salah, Fernando Jose! (Lah, kok jadi telenovela?)

anigif_enhanced-buzz-11048-1458060575-5

Anyway, memulai perkulihan berarti hidup baru kamu baru saja dimulai. Ada IP yang harus dikejar. Ada puluhan jurnal internasional yang harus dibaca. Ada tumpukan buku yang menanti untuk di stabilo. Ada presentasi yang harus dilakukan. Ada jam tidur yang kurang ditemani oleh mie instan dan bergelas-gelas kopi. Tapi disitulah seninya!

Beberapa beasiswa menargetkan IPK minimal ketika sudah lulus. Tentunya ada beban moral juga. “Yah masa sih gue nggak cumlaude? Kan malu kuliah udah dibayarin juga”. Nah semoga pemikiran seperti ini bisa memotivasi kamu untuk belajar lebih giat. Teman kamu belajar 99%, berarti kamu harus 150%!!! JANGAN KASIH KENDOOOORRRR!!!!

tumblr_static_tumblr_static_1gfy39ertn9c0k0gww44s4ow0_640

Terakhir saran saya dan yang paling penting, setelah lulus S2 atau S3 kelak, pastikan ilmu kamu berguna bagi masyarakat Indonesia. Ingat yaa… kembalinya harus untuk Indonesia sendiri. Negeri yang sudah membesarkan dan membentuk kita seperti sekarang ini.

YOU RAWK PARA PEJUANG BEASISWA!

 

 

Coffee Talk #2

img_89181

Gadis terbangun karena getaran ponsel yang terus menerus di bawah bantalnya. Dalam hitungan sepersekian detik, Gadis duduk tegak di kasurnya. Dia meraba-raba bawah bantalnya, mencari ponsel dengan mata yang masih setengah terpejam.

“Ada yang tidak beres” Pikir Gadis.

Dia tahu ada sesuatu yang salah pagi itu. Gadis mematikan alarm dari ponsel, dan menatap layarnya selama beberapa detik. Dia tahu ada yang tidak beres. Dia tahu ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Tapi dia tidak tahu apa itu.

Ponsel satunya lagi!

Gadis memiliki dua ponsel. Ponsel yang dia pegang sekarang adalah ponsel yang hanya digunakan untuk menyalakan alarm, mendengarkan musik, dan update sosial media ketika mendapatkan wi-fi. Sedangkan ponsel satunya, yang tidak dia ketahui keberadaannya, adalah ponsel pribadi untuk pekerjaan dan menghubungi keluarga, teman, serta rekan kerjanya.

Gadis lompat dari tempat tidur. Dia mencari di saku celana. Tidak ada. Di saku jaket juga tidak ada. Di dalam tas, di dalam lemari pakaian, di dalam laci, hingga di bawah tempat tidur juga tidak ada.

Gosh!” Gadis menepuk jidatnya dan berlari ke kamar mandi. Ponsel yang dia cari tergeletak di dekat wastafel bersebelahan dengan odol dan sabun cuci muka.

Raut wajah Gadis berubah sekitika. 45 panggilan tak terjawab dari pukul 06.10 hingga 07.52 dari nomor yang disimpannya dengan nama Medusa.

“Apa? Kenapa…. Kenapa jadi silent mode gini sih?” Gadis meratapi ponselnya.

Gadis tidak berani mengecek WhatsApp ataupun pesan yang masuk. Dia belum siap menghadapi horror sepagi ini. Dengan pontan-panting Gadis buru-buru mencuci wajah dan mengenakan baju sekenanya, sebelum akhirnya dia berlari keluar rumah dan mengabaikan panggilan masuk yang ke-46.

***

“Rico! Gue yakin itu pasti Rico” Yudha menuangkap air panas ke gelas kertas miliknya.

“Ssstt! Anjir jangan keras-keras napa!” Kata Oli panik sambil melihat sekitar. “Tapi lo liat deh ya Instagram dua bocah itu. Liat gak sih jam tangan mereka tuh couple?”

“Li, ambilin gue kopi sachet lagi dong.” Pinta Riri kepada Oli. “Dua, Li!” Riri menegaskan.

“Anak aneh ya lo masih aja minum kopi dua sachet sekaligus” Ujar Gusti sambil mengaduk gelas kopinya.

“Terus emang mereka itu kemarin kabur ke Taiwan bareng. Gila apa ya dikira kita nggak ada yang ngerti.” Lanjut Oli dengan merasa gosip yang dia ceritakan lebih penting dari perbincangan apapun diantara keempat orang tersebut.

“Ini ya yang gue benci kalo kita pemotretan di luar begini. Kenapa nggak di kantor redaksi aja sih? Sama aja ada studionya. Nggak suka gue kopi sachet gini nih! Kalo di kantor kan bisa grinder sendiri.” Keluh Gusti. Meski mengeluh, tapi kopi dia lebih cepat habis dari yang lainnya.

Riri meracik kopi dua sachet yang dituangkan sekaligus dalam satu gelas  sambil mengamati lokasi pemotretan yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari meja coffee break. “Lihat dulu tuh Bang, siapa dulu artisnya yang kita foto.”

“Kalau sampai gosip dia pacaran sama Rico gue lempar ke forum, duh mati dah karir si Kardashian wanna be itu.” Oli berkata geram sambil meremas gelas kertas di tangannya yang untungnya sudah tidak berisi kopi panas lagi.

Selang beberapa detik kemudian, Gadis mendatangi meja coffee break. Dia mencari-cari kopi yang pas di dalam tumpukan kopi sachet.

“Kopi sachet murahan semua.” Rutuk Gadis kesal. Pun begitu dia tetap mengambil Moccachino dan meraciknya dengan terburu-buru.

Aura di meja coffee break mendadak berubah setelah Gadis datang. Tidak ada lagi kata-kata yang meluncur dari bibir para crew majalah. Gadis menyadari hal ini, namun dia berpura-pura tidak terjadi hal apapun. Ini bukan pertama kalinya orang-orang bersikap seperti itu kepadanya.

“Hai, Dis!” Yudha akhirnya memecah keheningan.

“Hai Bang Yudha” Balas Gadis sambil masih menunduk dan mengaduk kopinya.

Gadis belum mandi pagi ini. Dia tidak tahu seperti apa bentuk wajahnya ketika tiba di lokasi pemotretan dan terlambat selama 45 menit. Karena itu dia merasa lebih baik menunduk ketika ada orang yang mengajaknya berbicara.

“Sani jadi ke Bali hari ini, Dis?” Tanya Oli penasaran.

Gadis menggeleng singkat. “Besok. Besok siang pesawatnya dari Cengkareng”

Hening lagi.

Gadis beranjak dari lokasi coffee break tanpa mengatakan apa-apa kepada crew majalah. Dia ingin menjauh dari lokasi utama, namun pemotretan sesi pertama telah berakhir. Mau tidak mau Gadis harus menghampiri lokasi pemotretan. Dengan langkah yang berat Gadis berjalan menuju model utama yang masih berada di set.

“Starbucks, Dis! Starbucks!” Seru Sani sambil mengibaskan rambutnya. Sorotan lampu studio membuat keringat mengalir deras hingga ke leher jenjangnya.

“Iya, habis ini aku belikan Vanila Latte di Starbuck.” Jawab Gadis dengan masih menunduk.

Sani mengusir tim make up yang berupaya mengeringkan keringatnya dengan handuk dan berjalan mendekati Gadis.

“Elo kemana sih pagi tadi?”

“Ponsel aku silent. Sorry”

Silent! Sejak kapan?” Nada suara Sani meninggi dan membuat Gadis sedikit berjengit. “Gue itu calling elo ada kali 50 kali. Sialan! Kebo banget sih tidur elo.”

“46 kali, Nyet!” Sekali lagi Gadis mengutuk dalam hati

Fotografer menghampiri Sani dan mengatakan pemotretan sesi kedua akan dimulai 15 menit lagi dan Sani sebaiknya segera berganti pakaian. Namun Sani tidak menggubris perkataan fotografer tersebut. Dia justru meneriakkan nama Rayes dengan sangat keras, hingga seorang pria bertumbuh pendek dan gempal berlari kecil menghampirinya.

“Denger ya kalian berdua,” Sani menatap Gadis dan Rayes. “baju gue di Oscar ada sedikit masalah. Dia nggak mau anter gaun itu malam ini. Gue nggak mau tahu ya pokoknya, lo berdua urus tuh Oscar. Elo tungguin dia di samping mesin jahitnya sampai dia kelarin gaun gue. Kalau perlu, lo beli senjata api selundupan dulu buat ngancem dia, atau apapun lah! Pokoknya yang gue tahu itu gaun harus masuk koper sebelum gue flight ke Bali besok.”

Gadis menatap Rayes. Rayes balik menatap Gadis. Gadis menunduk menatap sepatu Sani yang ditaksir bernilai diatas 10 juta. Rayes ikutan menunduk menatap kuku jari kaki Sani yang dia nilai kurang sempurna saat manicure.

“Nggak bisa nitip orang aja? Kan gue nanti malem masih urus baju elo buat acara TV itu ciiint.” Rayes merajuk.

Sani menatap Gadis tajam, lalu meraih gelas kopi di tangan kiri Gadis.

“San… itu….kopi udah aku minum. Habis ini aku ke Starbucks beliin kamu kopi.” Gadis berbohong.

Sani menatap Gadis dan gelas kopi di tangannya dengan bimbang. Mengabaikan ucapan Gadis, Sani meminum kopi tersebut. Gadis hanya menelan ludah.

“Berengsek!” Umpat Gadis dalam hati.

“Elo tahu tempatnya kan, Dis?” Tanya Sani. Gadis mengangguk. Bagaimana tidak tahu, selama enam bulan terakhir Sani berkali-kali mengantar Sani ke tempat itu “Nah! Elo samperin Oscar ya malam ini ini. Jangan jalan sekarang. Gue belum selesai pemotretan. Terserah lo nanti malam mau sama Rayes atau minta ditemani sama yang lain. Gue hanya mau pakai gaun Oscar buat acara besok malam di Bali. Got it?”

Masih di alam bawah sadar, Gadis dan Rayes segera mengangguk sebelum emosi Sani memuncak.

Salah satu tim make up memanggil Sani untuk berganti pakaian.

“Awas aja ya nggak beres urusan gaun ini. Gue sudah cukup kesal elo terlambat pagi ini. Oh iya, jangan lupa Starbucks gue. Kopi elo sampah banget” Sani menyerahkan kembali gelas kopi milik Gadis yang kini tersisa seperempatnya saja, dan dia berbalik meninggalkan Rayes dan Gadis.

Gadis melipat tangan dan menghembuskan nafas. Matanya menangkap gelagat crew majalah yang berada di meja coffee break mendapatkan tontonan yang menarik. Namun kumpulan crew di meja tersebut segera balik kanan bubar jalan setelah mereka sadar Gadis memperhatikan mereka.

“Say, gue nggak bisa cabut ke Bandung. Nggak ada yang bisa gantiin kerjaan gue nanti malem.” Rayes bergelayut manja di tangan Gadis.

Gadis mengacak rambutnya frustrasi. “Diem dulu, Yes! Aku belum dapat kopi satu tetes pun hari ini. Aku belum bisa mikir.”

“Elo minta temenin si Ine deh ciint.”

“Nggak! Nggak!” Gadis langsung menolak usul Rayes. “Kelamaan. Aku jalan sendiri aja ke Bandung nggak apa-apa kok.”

“Jangan deh ciint… Elo sama supir agensi aja ya.”

Gadis melirik Rayes tajam. “Aku bisa jalan sendiri. Aku nggak perlu supir!”

“Aduh ciint…. Elo mau sampai kapan sih nggak percaya sama supir mobil? Capek sendiri deh idup elo kesana kemari nyetir sendiri. Gue khawatir juga kalau elo ke Bandung sendirian malem-malem. Elo mau sampai kapan sih nggak percaya sama orang lain?”

Sebenarnya ada satu orang yang dia percaya. Satu orang yang dia yakin nyawa dia aman jika bersamanya. Satu orang yang menghilangkan trauma Gadis tentang kecelakaan mobil. Gadis berniat menghubungi orang tersebut nanti sore. Siapa tahu dia bisa mengantarkan Gadis ke Bandung.

Gadis mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu kredit. “Aku mau ke Starbucks nih. Kamu mau pesan apa? Mumpung kartu kredit si Medusa ada di tangan aku.” Gadis tertawa kecil. Sementara Rayes menatap mulutnya dengan dramatis.

“Jahara kamu ciint. Nanti kalau Medusa tahu gimana?”

Gadis mengangkat bahunya dengan santai. “Kamu pikir, selama ini kalau aku ke Starbucks, aku gesek sama kartu kredit siapa?”

Gadis membawa mobil Sani. Gadis membawa kartu kredit Sani. Bahkan, salah satu ponsel Gadis diberikan oleh Sani. Namun dia tidak dapat menyingkirkan kenyataan bahwa menjadi baby sitter, atau bahasa profesionalnya menjadi Asisten Manager artis seperti Sani bisa memperpendek usianya. Bahkan berkaleng-kaleng kopi pun belum tentu dapat menyelamatkannya

 ***

Previous chapter Coffee Talk #1

Coffee Talk #1

blog_07_05_2016

“Satu Caramel Latte?” tanya seorang pramusaji.

Lanang menganggukkan kepalanya dan menyunggingkan senyum datar kepada pramusaji. Dengan cekatan sang pramusaji meletakkan segelas Caramel Latte di hadapan Lanang. Dia sempat memberikan senyuman yang sedikit menggoda kepada Lanang sebelum kembali ke belakang.

Lanang tak memiliki perasaan yang cukup peka menanggapi senyuman pramusaji tersebut. Dia kembali berkonsentrasi di layar tabletnya. Entah apa yang sedang dibaca olehnya, hingga mungkin hanya serangan bom nuklir di kedai kopi tersebutlah-yang mampu memecahkan konsentrasi Lanang.

Kedai kopi ini merupakan favorit Lanang yang berada di sebuah Mal. Lanang merupakan pecinta kopi sejati, sehingga dia sudah hafal betul cafe hingga kedai kopi yang berada di setiap Mal Jakarta.

Bagi Lanang, kedai kopi di dalam Mal adalah sebuah keuntungan yang tak terhingga. Karena kedai kopi menjadi pilihan pertama Lanang ketika harus menunggu seseorang berbelanja, ke salon, atau sekedar window shopping

Lanang menyesap Caramel Latte yang masih panas. Dia meringis begitu meneguknya.

“Terlalu manis.” Gumamnya.

Siang itu sebenarnya Lanang hendak memesan Coffee Latte seperti yang biasa dia minum. Namun karana konsentrasinya terpecah oleh email yang diterimanya dari dosen pembimbing tesis, Lanang jadi keliru mengucapkan Coffee Latte menjadi Caramel Latte.

Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar tablet. Rupanya Lanang masih membaca email yang dikirimkan dosennya. Dia menghembuskan nafas yang berat, lalu menutup tabletnya.

Masa bodo” pikirnya.

Lanang melirik jam tangannya. Sudah pukul tiga sore lebih. Dia kembali meneguk kopinya hingga tersisa setengah gelas. Itu adalah kopi keduanya di hari Sabtu. Bagi pecinta kopi seperti Lanang, satu hari tanpa Cafein adalah penyiksaan. Lanang wajib minum kopi di pagi hari sebelum beraktifitas. Gelas kopi kedua bisa di siang hari, atau bahkan malam hari sebelum ia beranjak tidur. Rupanya kegemarannya dengan kopi membuatnya kebal terhadap pengaruh cafein meskipun ketika akan tidur malam.

Found you!” seru seorang wanita dari belakang Lanang. Wanita tersebut segera duduk di sebelah Lanang. Di tangan kanannya tersampir tas LV keluaran terbaru, sedangkan tangan kirinya menentang dua tas belanjaan yang cukup besar.

“Coba lihat apa yang aku beli?” tanpa basa-basis menunggu Lanang untuk menebak, wanita itu sudah mengeluarkan sekotak permainan dari dalam tas belanjaan bertuliskan Toys R Us. Dia menunjukkan mainan kereta beserta rel-nya yang dapat dirakit sendiri kepada Lanang.

“Bagus” komentar Lanang dengan datar.

“Coba kamu tadi ikut. Aku tadi agak bingung sih milihnya. Tapi semoga Oldi suka ya. Eh, suka nggak yaa? Dia kan ulang tahun yang kelima. Jadi at least dia exited dong dapat hadiah seperti ini. Anak lima tahun udah sanggup kan babe main ginian?” wanita itu mengerjapkan matanya manja kepada Lanang.

“Yeah… Sepertinya begitu.” lagi-lagi Lanang bergumam datar. “Yang tas satu lagi belanja apaan?”

“Oh… ini…” waita itu sibuk mengintip tas belanjaan satunya lagi. “Sepatu.” dia kemudian menyunggingkan senyum penuh kemenangan di wajahnya.

“Sepatu? Lagi?” tanya Lanang heran. Kini dia menghabiskan gelas Caramel Latte hingga bersih.

Wanita disebelah Lanang langsung tersenyum manja. “Charles & Keith lagi diskon, babe. Believe it or not, stiletto ini baru dua bulan keluar dan sudah dapat diskon. Makanya aku beli.”

Lanang hanya menaikkan alisnya. Wanita yang berada di sebelahnya adalah Trista. Mereka telah berpacaran selama satu tahun. Orang akan menganggap Lanang dan Trista layaknya pasangan selebritis. Lanang memiliki postur tubuh yang tinggi hingga mencapai 188 senti meter. Dengan kulit sawo matang, wajah Lanang cukup tampan meskipun tak setampan artis di televisi. Namun dia memiliki kharisma dan pesona yang kuat. Terutama di sekitar para wanita.

Sedangkan Trista adalah wanita bertubuh semampai dan bermata imut layaknya barbie. Postingan selfie-nya di Path maupun Instagram selalu mendapatkan banyak komentar positif, terutama dari para pria. Ke-eksisan Trista di dunia maya berbanding tegak lurus dengan ketenarannya di dunia nyata. Trista adalah teman Lanang semasa mengenyam pendidikan di Universitas dan Jurusan yang sama. Diantara sekian banyak mahasiswi yang naksir dengan Lanang, hanya Trista yang berani mengungkapkannya. Trista adalah wanita pertama yang menyatakan perasaannya kepada Lanang, sekaligus wanita pertama yang menjadi kekasihnya.

“Kita pergi sekarang yuk.” ajak Trista. “Oh tunggu! Aku haus. Aku pesen minum dulu yaa. Take away aja biar cepet.” Trista lalu segera beranjak ke konter.

Lanang dan Trista akan menghadiri ulang tahun kelima Oldi. Oldi adalah keponakan dari Adrian. Sedangkan Adrian adalah pacar dari Rini yang merupakan teman dekat Trista. Bagi Lanang, acara itu sungguh tidak penting. Bagaimana bisa dianggap penting apabila Lanang saja tidak pernah datang ke acara ulang tahun keponakannya sendiri? Bagi Lanang, acara itu membuang-buang waktunya. Tapi dia tidak punya pilihan karena datang ke pesta tersebut adalah inisiasi Trista.

Trista sangat gemar memberikan orang lain hadiah ketika ulang tahun. Karena itu dia sangat suka menyiapkan kejutan pesta ulang tahun, atau hanya datang sekedar meramaikan. Termasuk pesta ulang tahun saudara jauh, hingga keponakan pacar sahabatnya sendiri.

Satu buah pesan WhatsApp muncul di ponsel Lanang

Gue perlu tebengan ke Bandung malam ini juga. Elo dimana sekarang?

Shit!” umpat Lanang.

Trista kembali dengan menggenggam Ice Americano dingin di gelas plastik. “Kenapa?” tanya Trista. Dia seperti membaca gelagat tak biasanya dari Lanang.

Lanang membuka mulutnya dan menutupnya kembali. “Jam berapa acara dimulai?” tanyanya.

Trista melirik jam tangannya. “Jam empat sih undangannya. Kalau pergi sekarang kita masih keburu kok.”

“Apa aku bisa pergi lebih cepat nanti? Maksudku…. sekitar jam enam acara pasti sudah selesai bukan?”

Trista menatap Lanang heran. “Kamu ada acara? Tapi ini kan acara ulang tahun Oldi. Aku sudah ikut mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari. Aku juga mencari kadonya dengan susah payah”

Iya. Tapi Oldi Cuma keponakan dari cowoknya sahabat elo which is nggak penting banget gue datengin! Dan sejak kapan elo sekarang ngerangkap kerja jadi birthday organizer?” keluh Lanang dalam hati.

“Oke. Kita berangkat sekarang aja ya” Lanang memaksakan tersenyum. Sekali lagi, dia tidak pernah punya pilihan.

Trista beranjak sambil menyeruput minumannya, kemudian menyerahkannya sisa Americano setengah gelas itu kepada Lanang. “Nih babe. Abisin. Aku kenyang udahan.” Dia kemudian melenggang keluar dari kedai kopi dengan menenteng belanjaannya.

Lanang mengikuti Trista dari belakang. Sesampainya di luar kedai, dia membuang Ice Americano ke tempat sampah tanpa sepengatahuan Trista. Lanang membenci Americano. Lanang membenci kopi hitam. Dia tidak pernah menyukainya.

 

 

Coming up next Cofee Talk #2

AWKARIN AND ANYA GERALDINE ARE MY RELATIONSHIP GOALS! KYAAAA…!!!

Saya masih ingat waktu saya masih SMP, saya meminjam buku teman saya yang berjudul Kambing Jantan. Kali itu merupakan pertama kali bagi saya membaca sebuah buku isinya kumpulan postingan blog seseorang bernama Raditya Dika.

Blog itu apa sih?

Siapa yang bisa menulis di blog?

Kenapa orang harus menulis blog?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul di otak anak 13 tahun di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Di buku Kambing Jantan diceritakan Radit sekolah S1 di Australia, dimana ketika mau akses internet dia cukup buka laptop saja. Sementara saya? Harus naik sepeda atau naik becak dulu ke warnet di Pasuruan. Trus begitu di warnet, kanan kiri saya mainnya MIRC brooo…

Berkat bukunya Radit, saya tau apa itu blogspot, hingga membuat akunnya. Berkat Radit, saya mulai suka menulis. Saya berani menulis cerita agak nyeleneh seperti yang Radit tulis. Meski ketika sudah beranjak dewasa, saya tidak seberapa intens lagi mengikuti karya Raditya Dika. Nama Raditya Dika semakin melejit karena dia punya talent. Dia jadi artis. Nerbitin buku. Pacaran sama penyanyi trus putus. Terakhir kali sih mengikuti Malam Minggu Miko di Youtube. Ini cerdas sih serial malam minggu Miko kalau menurut gue. Hiburan berbeda via Youtube.

Youtube!

Berapa banyak sih subsriber Radit di Youtube? lebih dari dua juta. Video dia juga dilihat 400 – 700 ribu orang. Apa sih isinya? Banyak. Lo cek sendiri lah kayak nggak punya kuota aja. Apakah Radit ada VLOG? Ada! Apakah layaknya VLOG masa kini yang menceritakan sehari-harinya? Yess! Tapi, Radit kan sudah jadi artis sebelumnya. Jadi isi VLOG dia ya acara dia jalan kemana, atau masak sama siapa, meeting sama artis ini dan itu, yang terakhir sih sama finalis stand up comedy.

Siapa lagi sih orang Indonesia yang aktif di Youtube?

Ada Bayu Skak! Somehow gue bangga sama Bayu ini karena dia tampil di Youtube dengan “Cak Cuk” khas Jawa Timur dan logatnya yang medhok. Isi Youtube dia juga absurd banget sampai rekaman dia bikin lagu dengan 100% bahasa Jawa. Pada akhirnya Bayu di endorse beberapa toko online yang kabarnya nih, membayar dia dengan biaya lumayan. Dia juga jadi bintang tamu disana-sini, dan…main film! Apakah dia punya talent? Saya rasa dia unik, dan itulah talent dia. Tapi pamor bayu masih terbatas. bahkan belum ada dua ratus ribu orang yang subsribe channel youtube dia.

Beralih lagi ke youtubers lain. Ada yang tau Rich Chigga? Bocah 16 tahun yang membuat dunia hip-hop kebingungan. Tidak ada yang percaya remaja keturunan Tionghoa yang tinggal dan besar di Jakarta ini bisa membuat rap lagu dengan baik, dan berbicara dengan american slang seperti dia dilahirkan dan dibesarkan di Detroit. Sakitnya lagi, ni bocah juga membuat beberapa short movie di video Youtube miliknya dengan kualitas yang….. Nggak main-main kalau kata saya.Rich Chigga atau yang memiliki nama asli Brian Imanuel. Video klip dia “Dat Stick” dilihat lebih dari 16 juta. 16 JUTA BROOOO!!! (kan gue udah bilang tadi kalau ni bocah sakit!)

There’s more! kalau Radit dan Bayu Skak terkenal dengan ke-absurdan mereka (yang keselnya kasih mereka banyak duit) dan Brian Imanual dengan style hip-hop dia, ada Eka Gustiwana yang jago medley lagu. Semua lagu di medley. Orang baca berita juga dibikin lagu, bahkan ringtone Nokia juga di Mash Up. Once again, Talent!

Intinya nih yaa… Youtube memunculkan fenomena bahwa “Lo mau jadi artis? Bisaaa! Lo bikin aja video aneh dan apaa gitu, upload, banyak yang nonton dan subscribe, lo terkenal! Lo dapat duit”

lalu muncullah sosok seperti Awkarin dan Anya geraldine.

giphy

Remaja yang nggak bisa jadi artis di TV , akhirnya memilih channel Youtube dan Instagram untuk menyalurkan hasrat eksis mereka.

Kemarin saya sempat buka VLOG Anya Geraldine (Walau temen gue ngotot bilang “Lu nonton Youtube dia, viewers nya nambah tauk) Tapi kan saya mau riset. Saya perlu tahu, apa sih yang mereka lakukan di YT hingga membuat ibu-ibu jengah dan melaporkan mereka ke KPI.

Saya rasa, Awkarin dan Anya tidak ada bedanya dengan Radit, Bayu, dan artis Youtube lainnya. Mereka mau go viral. Mereka mau dikenal (Walaupun Radit juga bikin Youtube setelah dia terkenal). Itu hasrat manusia. Wajar.

Hanya memang bagi saya, konten Awkarin dan Anya ini kosong sekali. Tidak ada yang unik. Tidak ada talent. Tidak ada pesan yang mau disampaikan. hanya pantat Anya yang kemana-mana dibalik bikininya, dan cipokan sama cowoknya. Bahkan konten Kardashian yang menurut saya sampah, masih lebih sampah konten VLOG Awkarin dan Anya. Mereka nggak unik. Dan sorry… mungkin mereka punya talent. Mungkin. Tapi mereka tidak mau menunjukkan talent tersebut dan memilih jalan shortcut. Ngomong Anjing dan kawan-kawannya, nangis ketika diputusin, serta pakai bikini dengan ciuman sama pacar.

r1kecdt

Saya sih melihatnya mereka menginginkan “acceptence” dari orang yang sejenis. Awkarin dan Anya tidak butuh acceptence dari kaum elit, kaum borjuis pemegang saham, atau orang politik. Mereka hanya mau diakui oleh golongan yang setara dengan mereka, which is… para remaja.

Banyak yang menjadikan Awkarin dan Anya jadi “Relationship Goals” mereka. Gini ya, ketika melihat VLOG Anya, dia liburan di Bali. Naik Garuda. Disana stay di resor mewah yang gue tahu itu bayarnya harus pakai dollar, or at least jutaan banget. Lo nggak bisa punya kehidupan seperti itu kalau ortu lo bukan orang kaya. Dan lo nggak akan meraih “goals” itu kalau yaaa… sorry… strata ekonomi elo sama kayak gue. Ya gini-gini aja. Percayalah guys, kita memang bisa merubah nasib kita sendiri. Tapi ada pemegang kepentingan di atas sana yang sudah mengatur siapa yang harus kaya dan siapa yang tidak. That’s the reality!

giphy1

Saya jadi berpikir, apa yang dipikirkan anak SMP ketika melihat YT Awkarin dan Anya? Apakah hampir sama seperti saat saya membaca buku Radit? Saat itu, keesokan harinya saya langsung ke warnet mencari tahu tentang blog dan mencoba menulis disana. lalu, bagaimana dengan mereka yang terpapar video Awkarin dan Anya? Apa yang mereka lakukan keesokan harinya? Beli tiket pesawat ke Bali? Ngatain Ibu sendiri Jancuk? Posting foto ciuman sama pacar? Goals itu bukan hanya masalah lo punya cowok kaya, lalu lo liburan di Bali, kissing, showing it of di YT dan sebagainya. Oh… WAKE UP! Saya yakin banyak Goals lebih berharga daripada sekedar membuat seluruh dunia mengetahui kalau lo cipokan sama cowok elo.

Kita ini kan hidup di kelompok sosial yang mengarah keatas. Jika kita bersama kelompok di lapisan kelas 1, kita ingin naik ke lapisan atas di kelas 2. Setelah berada di kelas 2, kita masih ingin naik terus ke tingkat 3. begitu seterusnya. Anya dan Awkarin ingin terus naik ke lapisan sosial paling tinggi melalui Youtube dan sosial media.

Banyak lho remaja Jakarta yang cantik, punya tato, bahkan nyimeng, tapi mereka tidak perlu membuat Vlog dan upload IG macam Anya dan Awkarin. Kenapa ya? Bisa jadi karena kelompok sosial mereka tidak menuntut mereka untuk seperti itu. Seperti Raisa let’s say. Misal Raisa upload video di IG isinya dia bilang good morning aja yang like bisa ratusan ribu. Misalkan dia posting video di YT dia latihan vocal aja, pasti yang nonton diatas seratus ribu deh. Mungkin karena Raisa menggunakan chanel tersebut untuk menyapa fans dia dan promosi album serta single terbaru, bukan untuk dapat perhatian dan sensasi.1441804772_raisa

Jadi apakah ini sepenuhnya salah Awkarin dan Anya? I’m gonna say NO!

Ada faktor lain yang mendukung Anya dan Awkarin bersikap binal luar biasa di media sosial. Bisa jadi salah satunya faktor keluarga, lingkungan, kelompok sosial, strata, akses yang mereka miliki untuk bikin vlog dan pemotretan di IG, dan paparan media sendiri. kalau mereka sudah salah karena paparan media, dilihat lagi, perilaku kebarat-baratan itu apakah efek cengkraman globalisasi media di Indonesia? Nah, kalau begitu siapa yang salah bila sudah berada di posisi ini.  Kalau ditarik lagi jadi makin panjang dan saya sendiri ikutan serem ngomonginnya. Bisa jadi, kita dan Awkarin serta Anya hidup di circle yang sama karena kita mengkonsumsi media yang sama pula, tapi karena Awkarin dan Anya punya akses untuk eksis, ya sudah mereka jadi begitu. Pusing gak lo? Gue sih sudah pusing dari kemarin. SEBENARNYA GUE HIDUP DI DUNIA SEPERTI APAA??? Makanya saya lebih memilih menulis di blog dengan struktur dan teori dari sudut pandang saya, dari pada nyinyir dan meninggalkan hateful comment.

So please, stop deh menjadikan Anya dan Awkarin sebagai rekationship goals. Bisa punya relationship aja itu sudah goals. Eeeaaa…. Nggak cuma Anya dan Awkarin saja sih, mari kita lihat Brad dan Angelina. Lalu Taylor dan mantan-mantannya. “Goals” sebenarnya dalam relationship adalah menjadi yang terbaik untuk pasangan kita. Bukan meniru gaya pacaran pasangan lainnya. (Sok bijak banget)

It’s okay if you want to go viral. Go ahead! Anak muda Indonesia ini kreatif kok. Apa saja bisa dijadikan uang. Tapi pilihlah jalan yang punya “dignity” seandainya mau go viral. Raditya Dika, Bayu Skak, Eka Gustiwana dan Rich Chigga adalah segelintir contoh yang saya berikan bahwa bisa kok go viral dengan kemampuan kalian atau ke-absurdan yang kita miliki. Rich Chigga saja bicara kotor di Youtubnya tapi tidak ada yang mempermasalahkan karena viewers fokus kepada rap dia. Bahkan banyak viewers dan followers dia berasal dari luar negeri, yang mana less remaja alay. Masih banyak kok Youtubers lain yang nggak kalah keren dan masih punya “dignity”.

Do not exchange your dignity for popularity. No relationship is ever worth sacrificing your dignity or self respect for.

Jadi…jadi…. Relationship goals elo seperti apa, Moo?

tenor

 

Dududududududu….

Masih harus review Jurnal nih. Bhay!